Print this page

Matatajam.com. SALATIGA—Pondok pesantren Al Muntaha, Cebongan, Argomulyo, Salatiga gelar seminar local day for human right beberapa waktu kemarin (28/8). Kegiatan yang melibatkan santri Nahdhatul Ulama (NU) tersebut mengajak para pelajar lebih mengenal hak asasi manusia (HAM).

Dalam paparannya, Muhammad Hanif yang juga dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjelaskan sejarah berdirinya pondok pesantren Edi Mancoro dan semangat menghormati pluralitas keberagamaan di Salatiga. Agar tidak muncul konflik yang bersifat SARA.

“Para pemuda Salatiga, harus mulai sejak dini dikenalkan dengan pluralitas kebangsaan. Agar tidak mudah tersinggung dan tidak mudah menghakimi kelompok tertentu,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Irfan Abu Bakar, menurutnya pesantren adalah pondasi utama dikenalkannya santri kepada pluralitas. Yang nanti setelah lulus dari pesantren, santri akan mengilhami lahirnya perdamain di Indonesia dan dunia.

“Kita berharap santri nanti dapat bersosialisasi dengan masyarakat dan bisa menjaga perdamaian di lingkungannya tinggal,” tandasnya.

Ketua Panitia local day for human, Nashif Ubbadah menjelaskan Acara seminar ini digagas oleh Center for Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) untuk Indonesia-Timor Leste dengan dukungan Uni Eropa (EU) bekerja sama dengan Pesantren Al Muntaha sebagai panitia lokal untuk mempresentasikan hasil field trip atau kunjungan lapangan yang dilaksanakan pada tanggal 28 November 2015 dan 25 Februari 2016.

“Kami sebagai panitia lokal, akan terus memberikan pandangan kepada peserta dan masyarakat terkait pentingnya menghargai perbedaan dan menjujung tinggi konsep demokrasi,” pungkasnya. (Abd)

 

Berita ini dimuat di : http://matatajam.com/2016/08/local-day-of-human-rights-pondok-pesantren-al-muntaha-corong-perdamaian-lintas-agama-salatiga/

  • 0 comment
  • Read 355 times
Login to post comments