Pesantrenforpeace.com – Jakarta (17-18/9). Pondok Pesantren Annajah Rumpin Bogor selenggarakan workshop tingkat Kabupaten untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya dengan tema “Kesadaran Multikultural, Toleransi, dan HAM dalam Kehidupan Beragama.” Kegiatan yang merupakan bagian dari program Pesantren for Peace ini, diusung oleh CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia dengan dukungan Uni Eropa (EU). Diharapkan melalui workshop ini, akan meningkatnya peran pesantren di Jakarta dan sekitarnya serta terbangunnya kesadaran publik dalam rangka mempromosikan dan mengadvokasikan nilai-nilai kesadaran multikultural, toleransi dan HAM sebagai bentuk upaya penanganan konflik dalam kehidupan beragama.

Workshop yang melibatkan 30 peserta dari 22 pondok pesantren ini berlangsung selama dua hari, 17-18 September 2016 di Swiss-Belinn Simatupang Jakarta dengan menghadirkan pembicara Ahmad Ma’rufi dari Kementrian Luar Negeri, Ivan Ahda dari Maxima Indonesia, dan Muhammad Sofwan Yahya dari Yayasan Said Agil Siroj. Hadir juga dalam kesempatan tersebut Pendiri dan Pembina Yayasan Keluarga Besar Annajah, Dra. Hj. Maisaroh Madsuni; Ketua Yayasan Keluarga Besar Annajah, Arief Budiman, S.H, L.LM; Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abu Bakar, MA; dan perwakilan dari Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS), Sarah Sabina Hasbar.

“pesantren adalah inti dari pada umat Islam. Kalau kita bicara tentang Islam Indonesia sebagai kiblat peradaban Islam dunia, sesungguhnya kita berbicara tentang pesantren sebagai tulang punggung dari Ummat Islam Indonesia," tutur Irfan Abubakar dalam sambutannya. Ia menambahkan bahwa pesantrenlah yang bertanggung jawab melanjutkan tradisi Islam Indonesia. Ada ataupun tiada pemerintah, pesantren akan tetap ada, karena pesantren telah ada sebelum Republik ini lahir. Bahkan, pada saat penjajahan, pesantrenlah yang merupakan benteng pertahanan kebudayaan, tradisi, dan peradaban Islam.

Dalam sambutan pembukaan, pimpinan Yayasan Keluarga Besar Annajah, Dra. Hj. Maisaroh Madsuni menjelaskan bahwa pondok pesantren adalah pelopor sekaligus pelaku utama praktik multikultural, toleransi, dan HAM sebagaimana yang selama ini telah dikembangkan di Pondok Pesantren Annajah. “Meneruskan cita-cita salah satu pendiri pondok, alm. Dr. H. Sabaruddin Tain, Annajah berkembang dalam kearifan budaya menghargai, menyayangi, dan memberikan kesempatan memperbaiki diri”, tuturnya. Ia menambahkan bahwa hal tersebut diwujudkan dalam kebiasaan menghindari hukuman fisik terhadap santri (internal) dan memberikan hak tetangga pada masyarakat non muslim dalam pembagian daging kurban (eksternal).

Praktik toleransi yang demikian selaras dengan pemikiran yang disampaikan Ahmad Ma’rufi pada sesi pertama yang bertema “Pesantren dan Upaya Membangun Kesadaran Multikultural, Toleransi, dan HAM. Menurutnya, orang yang memiliki sifat kasih sayang mestilah menjadi pribadi yang diterima baik di masyarakat, toleran, dan jauh dari melanggar HAM. Dengan demikian, Pesantren dapat menjadi ‘kawah candradimuka’ dalam mengajarkan nilai-nilai multikultural, toleransi dan HAM.

Pembahasan kian menarik ketika Muhammad Sofwan Yahya mencoba untuk menghadirkan imaji dan multikultural ala pondok pesantren. Bagaimana keanekaragaman budaya pada akhirnya mampu diserap lalu kemudian dihadirkan dalam bentuk penerjemahan kebudayaan yang sama sekali baru. Beberapa gambaran multikultural ala pondok pesantren yang coba dihadirkan oleh Sofwan yaitu, tulisan arab melayu dan budaya berpakaian barat yang disandingkan dengan elemen-elemen pesantren seperti sarung sebagai identitas kesantrian. Kesemuanya merupakan imaji yang terbentuk dalam menerjemahkan pondok pesantren sebagai lembaga yang mampu melestarikan tradisi yang baik dan mengikuti tradisi yang lebih baik.

Pelestarian tradisi yang beragam merupakan praktik multikultural mendasar yang baru akan terwujud jika toleransi dan HAM dipahami dan diterapkan dalam keseharian di pondok pesantren. Hal ini sebagaimana yang dikuatkan oleh Ivan Ahda dalam sesi terakhir materi. Ivan menyampaikan bahwa multikultural, toleransi, dan HAM  dapat diterjemahkan dalam satu kata, yaitu empati. Dengan menghadirkan empati, keberagaman manusia yang heterogen di pondok pesantren dapat diseleraskan dalam kebersamaan harmoni. Dengan demikian akan muncul kesadaran bahwa toleransi dan HAM bukan soal membuat yang berbeda menjadi sama sepenuhnya, melainkan soal sadar bahwa yang berbeda tetap saling membutuhkan dan harus tetap hidup bersama secara berdampingan.

Yang menarik dalam pelaksanaan workshop ini, ke-30 peserta dibagi ke dalam 3 kelompok untuk mendiskusikan tiga konsep, yaitu Komunikasi, Toleransi, dan HAM. Masing-masing kelompok yang beranggotakan 10 orang diberikan satu konsep untuk digali lebih mendalam, guna menemukan pemahaman menyeluruh tentang kesadaran multikultural, khususnya di pondok pesantren.

Antusiasme para peserta dalam berbagi pengalaman di pondok pesantrennya masing-masing pada akhirnya membawa diskusi pada kesimpulan bahwa selama ini, pondok pesantren merupakan lembaga pionir yang telah membumikan konsep multikultural, toleransi, dan HAM. Keberadaan pondok pesantren mampu mendialogkan keberagaman dengan sangat baik dalam praktik saling menyayangi, beradaptasi, menghargai (toleransi dan HAM), dan menghidupkan tradisi  musyawarah (menjalin komunikasi). Dengan kontribusinya yang sangat besar dalam praktik multikultural, toleransi, dan HAM, pondok pesantren tentu harus didukung oleh orang-orang besar yang memiliki kepercayaan diri yang besar. Orang-orang besar itu tentu salah satunya merujuk pada para pengajar yang harus dengan percaya diri mengawal pondok pesantren sebagai agen perubahan.

Ide sebagai agen perubahan dengan penuh semangat dicetuskan oleh satu-satunya peserta sepuh berusia 60 tahun, KH. Imam Zarkasy Rowi dari Pondok Pesantren Nurul Jannah Al Muthohir Jakarta Timur yang kemudian diamini oleh seluruh peserta dalam perumusan hasil workshop di akhir acara, “kami siap menjadi agen perubahan!”, seru seluruh peserta.

Demikian kesadaran mulitikultural, toleransi, dan HAM yang selama ini direpresentasikan, dikembangkan, dan ditularkan dalam kehidupan pondok pesantren. [Imas Uliyah/LH].

 

  • 0 comment
  • Read 360 times
Login to post comments