Print this page

Pesantrenforpeace.com - Sumenep, Jawa Timur (26-29/09), Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk gelar Workshop best practices tingkat kabupaten dengan tema “Pesantren dan Implementasi Islam Rahmatan lil Alamin” di Ruang Pertemuan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah. Kegiatan tersebut terselenggara  atas kerjasama Institut Ilmu Keislaman Annuqayah dengan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia dengan dukungan dari Uni Eropa. Workshop ini terselenggara sebagai implementasi dari program dana hibah (subgrant) Pesantren for Peace. Hadir dalam workshop ini perwakilan dari CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Idris Hemay dan Efrida Yasni serta dari Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS), Sarah Sabina Hasbar.

Dalam kesempatan tersebut, Idris Hemay menyampaikan bahwa Pesantren for Peace bertujuan untuk meningkatkan kontribusi dan peran penting kelompok Islam Indonesia yang moderat dalam rangka menegakkan dan memajukan nilai-nilai hak asasi manusia, demokrasi, toleransi agama dan pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai di Indonesia melalui pondok pesantren. Workshop ini hanya salah satu dari sekian kegiatan yang dilakukan oleh Pesantren for Peace di lima provinsi: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Pelaksanaan Workshop nantinya akan dilanjutkan dengan pertukaran santri antarpesantren yang mengikuti program ini.  

Drs. KH. Washil M.Pd.I dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa saatnya pesantren memainkan peran penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang damai. Sejak zaman Nabi Muhammad hingga masuknya Islam ke Indonesia Islam selalu menggunakan cara-cara damai dan menghindari cara-cara kekerasan. Dan Islam di Indonesia sangatlah berbeda dengan negara-negara Islam di Timur Tengah yang saat ini tengah berkonflik.

Ach. Khotib, M.Pd.I, ketua panitia kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta dari 20 pesantren se-Kabupaten Sumenep. Dalam pelaksanaan Workhsop ada 6 materi yang disampaikan, meliputi Studium General: Pesantren dan Implementasi Islam Rahmatan lil Alamin yang disampaikan oleh Dr. Ach. Maimun, M.Ag; Materi I: Konsep Perdamaian dalam Islam yang disampaikan oleh M. Musthafa, M.A; Materi II: HAM dalam Islam yang disampaikan oleh K. Halimi, S.E, M.Pd.I; Materi III: Konflik dan Resolusi Konflik dalam Islam yang disampaikan oleh Fathur Rachman, M.Pd; Materi IV: Strategi Pesantren dalam Membendung Radikalisme yang disampaikan oleh Hj. Dewi Kholifah, SH.; dan Materi V: Nilai dan Tradisi Pesantren tentang Perdamaian serta Strategi Taktis Pengembangannya yang disampaikan oleh KH. Ilyas Siradj, SH., M.Ag. Ia juga menambahkan bahwa selepas kegiatan Workshop ini, santri atau pengurus yang diutus dalam kegiatan ini diharapkan dapat menularkan ilmunya kepada santri yang lain agar pesantren nantinya benar-benar bisa menjadi agen Islam rahmatan lil Alamin di pesantren masing-masing.

Sementara itu, Dr. Ach. Maimun, M.Ag dalam Studium General menyampaikan bahwa rahmatan lil Alamin oleh ulama, salah satunya dimaknai dengan rahmat kepada semua manusia, baik Muslim maupun non-muslim. Bahkan, ada pula ulama yang memaknai “alam” itu berarti semua makhluk. Jadi Islam tidak hanya menjadi rahmat bagi manusia, tapi juga makhluk Allah yang lain seperti tumbuhan, hewan dan lainnya. Dalam pemaknaan ini, Islam menjadi agama yang memberikan kedamaian kepada seluruh alam, seluruh makhluk Allah meliputi manusia, hewan, tumbuhan dan semuanya. Dalam kerangka ini, ulama sebagai penerus nabi, mempunyai tugas untuk menyampaikan Islam kepada orang lain dengan mata kasih sayang, bukan dengan mata kebencian. Karenanya, prinsip penyampaian Islam melalui cara-cara bijaksana, dengan mauidzhah hasanah dan juga argumentasi yang mumpuni. Bukan malah dengan jalan kekerasan, permusuhan, dan penuh kebencian. Itulah Islam rahmata lil Alamin, yang dicontohkan oleh Nabi dan dilanjutkan oleh kyai pesantren hingga saat ini. 

Sedangkan KH. Ilyas Shiradj, SH., M.Ag, Pengasuh PP. Nurul Islam Karangcempaka dalam sesinya menyampaikan bahwa “Pesantren harus kuat membentengi diri agar tidak tersusupi paham-paham radikal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dengan cara meningkatkan pengetahuan dan membangun jejaring antar pesantren.” tuturnya [Tim Annuqayah/LH]

  • 0 comment
  • Read 504 times
Login to post comments