Print this page

Pesantrenforpeace.com - Ciamis, Jawa Barat (21-23/9) Pesantren Sirnarasa yang berlokasi di Dusun Cisirri, Ciamis sukses menggelar Workshop Best Practices Tingkat Kabupaten yang merupakan implementasi dari Dana Hibah Pesantren for Peace. Program Pesantren for Peace ini terlaksana atas kerja sama dengan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa.

Workshop ini mengambil tema “Memahami Tanbih dan Pengaruhnya Terhadap Pemahaman HAM serta Penanggulangan Konflik Secara Damai”. Tema ini diambil karena teks Tanbih memuat nilai-nilai HAM sehingga perlu disosialisasikan dan dibahas bersama agar pengaruhnya bisa diterima oleh banyak orang. Hadir dalam workshop ini 38 peserta yang merupakan ustadz, ustadzah, dan santri perwakilan dari 38 Pesantren di sekitar Kabupaten Ciamis, Banjar, Tasikmalaya, Garut dan Kuningan dengan usia 22-35 tahun.

Workshop Tingkat Kabupaten di Pesantren  Sirnarasa ini dibuka oleh Ketua Yayasan Sirnarasa Cisirri, KH. Dadang Muliawan, M.Sos., Rabu (21/9) pukul 11.00. Acara pembukaan ini juga dihadiri langsung oleh sesepuh Pesantren, Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul. Suasana khidmat dibalut dengan penampilan-penampilan kreasi seni dari santri Pesantren Sirnarasa, seperti tari saman dan musik tek-tek sebagai bagian dari penyambutan terhadap peserta dan tamu undangan, membuat workshop ini lain dari pada yang lain.

Materi workshop ini terdiri dari 6 sesi yang disampaikan oleh narasumber yang pakar di bidangnya. Materi pertama, Mengenal dan memahami Tanbih disampaikan oleh Kyai Ali Nurdin; materi kedua, memahami Hak Asasi Manusia disampaikan oleh Dr. KH. Fadhlullah M Said, MA; materi ketiga, Tanbih dalam perspektif HAM oleh Dr. Chaider S Bamuallim, MA; materi keempat, Tanbih untuk peradaban dunia disampaikan oleh KH. Dadang Muliawan, M.Sos; materi kelima, memahami konflik dan penanganannya versi Tanbih disampaikan oleh Ucup Fathudin Al-Maárif, M.Ag; dan terakhir, sesi diskusi yang difasilitatori oleh KH. Didin Solehudin, M.Sos., Danial Lutfi, M.Sos., dan Subhan Firdaus, M.Sos.

Dalam uraiannya, Chaider S. Bamualim menyatakan bahwa Tanbih dapat dijadikan sebagai jalan untuk memahami dan menghormati nilai-nilai HAM. Nilai-nilai universal yang terdapat dalam tanbih dianggap mampu menghantarkan seseorang untuk lebih menghormati nilai-nilai kemanusiaan dan bisa dijadikan sebagai pedoman dalam resolusi konflik. Tanbih yang biasanya hanya dibahas di kalangan ikhwan (pengikut) TQN (Tariqat Qadariyah Naqsabandiyah) Pondok Pesantren Suryalaya, pada workshop kali ini menjadi bahasan di kalangan non ikhwan. Hal ini penting untuk melihat perspektif Tanbih dari orang di luar ikhwan TQN. Hasilnya, perspektif baik dari kalangan ikhwan maupun non-ikhwan tidak terlalu jauh berbeda.

Hal unik yang menjadi ciri khas workshop di Pesantren Sirnarasa ini, di setiap pergantian sesi disajikan penampilan kreasi seni dari para santri sekitar 5-10 menit, sehingga peserta tidak jenuh dan menambah semangat mengikuti sesi. Selain itu, di malam terakhir workshop, peserta dan panitia menggelar malam perdamaian yang diisi dengan muhasabah, sholat sunnat taubat dan talqin dzikir. Pagi harinya dipungkas dengan penyampaian pesan-pesan kebaikan dari sesepuh pesantren Sirnarasa yang sekaligus juga Mursyid TQN PP. Suryalaya. Selain mendapatkan ilmu dzohir, peserta juga mendapatkan ilmu ruhani untuk mensucikan jiwanya dari workshop ini peserta dan mendapatkan ijazah TQN PP. Suryalaya. [Ade Muslih/LH]

  • 0 comment
  • Read 329 times
Login to post comments