Berita Workshop Provinsi yang diinisiasi oleh PP Edi Mancoro, bekerja sama dengan CSRC, Konrad-Adenauer-Stiftung, dengan dukungan dari Uni Eropa ini dimuat di harian Suara Merdeka, Kamis, 3 November 2016

TUNTANG – Pondok pesantren sebagai basis keislaman di Indonesia diminta bijak menanggapi isu bernuansa agama. Sebab, dalam kasus yang diarahkan ke maslah agama, diyakini ada faktor lain, seperti politik, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Direktur Center for the study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Irfan Abubakar mengatakan, konflik bernuansa keagamaan, intoleransi, dan radikalisme diketahui mulai marak sejak 2000-an.

“kekerasan atas nama agama sebagian besar melibatkan kelompok militan Islam dan yang jadi korban juga orang Islam. Kok sepertinya tidak ada cara damai dan harus berujung penyerangan,” kata Irfan, di sela-sela pembukaan Workshop Provinsi tentang “membangun Pemahaman Perdamaian Berbasis Pesantren dalam Perspektif HAM”, di Ponpes Edi Mancoro Gedangan Tuntang, Kabupaten Semarang, Selasa (1/11).

Workshop dalam rangkaian acara Pesantren for Peace tersebut diikuti perwakilan santri dari 30 pesantren di Jateng.

“Terkait demo 4 November berkaitan erat dengan isu politik. Dalam masalah ini, pesantren sebagai basis Islam sangat penting meningkatkan peran dan menjaga perdamaian,” ungkapnya.

Dimensi Politik

Saat ini, lanjut Irfan, orang ditarik ke isu agama, padahal demo 4 November ini tak bisa lepas dari Pilkada DKI. Setiap konflik yang bernuansa agama, kata dia, pasti ada dimensi ekonomi, sosial, politik, dan sebagainya.

“Mereka yang demo seolah yang paling bertanggung jawab dengan kemuliaan Islam. Mereka yang diam juga belum tentu membenarkan ucapan Ahok. Kita tidak mengabaikan perasaan ketersinggungan umat, namun apa tidak ada cara lain yang elegan, elite politik bisa berembuk, misalnya,” papar Irfan.

Menurutnya kompleksitas masalah harus dipahami. Diharapkan santri mampu menganalisa ketika terjadi konflik. Santri diminta proporsional dalam bersikap.

Pengasuh PP Edi Mancoro Tuntang, Kabupaten Semarang, M Hanif mengatakan, sebagai lembaga pusat pengajaran dan penanaman nilai-nilai keislaman yang berbasis keindonesiaan, pesantren harus berada di garda terdepan dalam menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI dari bahaya radikalisme.

“karena itu, penanaman nilai-nilai perdamaian sebagai perspektif berbangsa dan bernegara dalam lingkungan pesantren diharapkan mampu menjadi resolusi konflik demi menjaga keutuhan NKRI,” kata dia. Dalam kegiatan yang merupakan kerjasama CSRC UIN Jakarta, Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan PP Edi Mancoro itu juga dihadiri Saiti Gusrini dari European Union di Jakarta dan pejabat perwakilan Gubernur.

  • 0 comment
  • Read 241 times
Login to post comments