Pesantrenforpeace.com - Bandung (09-11/11) Pondok Pesantren Al Quran Babussalam, Bandung, Jawa Barat telah sukses menyelenggarakan Workshop Tingkat Provinsi yang merupakan subgrating Program Pesantren For Peace. Workshop ini terlaksana atas prakarsa Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan Uni Eropa.

Workshop Tingkat Provinsi ini mengambil tema “Pesantren sebagai Promotor HAM dan Penanganan Konflik Secara Damai”. Peserta yang hadir sebanyak 30 orang yang merupakan ustadz/ustadzah dan aktivis organisasi Islam yang berada di wilayah Jawa Barat, dengan rentang usia 16-46 tahun. Tema workshop ini diambil berdasarkan analisis dari kehadiran pesantren sebagai pihak yang dapat dijadikan mitra untuk mempromosikan HAM dan penanganan konflik secara damai.

Pembukaan workshop dihadiri langsung oleh direktur Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Indonesia dan Timor-Leste, Jan Senkyr; Sesepuh serta ketua yayasan Pondok Pesantren Al Quran Babussalam, KH. Drs. Muchtar Adam; Direktur CSRC, Irfan Abubakar;  serta perwakilan dari pemerintahan propinsi Jawa Barat Ma’mur Rijal dan Imam Soetanto. Dalam sambutannya, ketua Yayasan Babussalam, Fadhullah M. Said, menyampaikan terima kasih kepada KAS, CSRC, Uni Eropa, pemerintah Jawa Barat, dan para peserta yang telah mendukung workshop ini.  

Jan Senkyr menyambut baik pelaksanaan workshop ini karena KAS sudah di Indonesia selama 60 tahun, berjuang dalam bidang pendidikan dan perdamaian. Sedangkan Kepala Bagian Keagamaan Sekretaris Daerah Jabar Ma’mur Rizal yang menjadi alumnus Babussalam, kaget dengan perkembangan Babussalan yang pesat, Ia juga menegaskan bahwa pesantren merupakan pondasi bangsa. Lurah  Ciburial, Imam Sutanto menyambut baik diselenggarakannya workshop tingkat propinsi ini, Ia mengapresiasi kemajuan Pondok Pesantren Al Quran Babussalam. Dalam sambutannya, Imam juga merekomendasikan peserta workshop untuk berwisata di Ciburial yang kini menjadi desa wisata di Bandung, dan Babussalam menjadi icon wisata religi-nya.

Direktur CSRC, Irfan Abubakar, dalam sambutannya menyampaikan bahwa salam merupakan  kata motivasi yang membuatnya terus aktif sampai sekarang dalam mempromosikan HAM dan penanganan konflik secara damai. Lebih lanjut, Irfan menegaskan peserta berada di “Babussalam” yang artinya pintu kedamaian, sehingga selesai workshop harus pulang dengan damai.

Workshop berlangsung dengan penyajian materi dan sesi diskusi. Materi yang disampaikan diantaranya : Hakekat Perdamaian dalam Perspektif Islam oleh Drs. K.H. Muchtar Adam; Pemberdayaan Pesantren dalam mewujudkan perdamaian berbasis simbiosis mutualistik HAM dengan Islam oleh Hasbullah Fudail; Pendidikan Perdamaian di Pesantren Beperspektif HAM dan Islam sebagai resolusi konflik dan isu-isu Pelanggaran HAM oleh Drs. K. H. Tatang Astarudin, M. Si; Peran Pesantren dalam Mempromosikan nilai-nilai perdamaian dan peduli terhadap HAM disampaikan oleh Irfann Amale; Sesi diskusi dengan Fasilitator Agus Suryaman, Desi Nia Kurniasih, dan Imas Siti Khotimah.

K.H. Muchtar Adam menjelaskan kepribadian Nabi saw. sebagai Al Quran Berjalan dalam menjaga hak asasi manusia dan cinta kasih. Ia  menggambarkan Sikap Rasulullah kepada orang yang ditemuinya, selalu mengucapkan salam terlebih dulu. Rasulullah sering bergurau dengan pembantunya. Ia sendiri tidaklah bersikap seperti seorang majikan kepada budaknya. Bahkan kepada hewan pun Rasulullah sangat penyantun. Sifat baik dan santun bila sudah mendarah daging, niscaya tidak akan terpisah dari diri seseorang, selama-lamanya. Orang itu akan selalu berlaku lembut dan penuh kasih, bahkan kepada hewan-hewan dan benda-benda mati sekalipun, termasuk kepada orang yang berbeda dengannya

Rencana tindak lanjut yang direkomendasikan para peserta workshop dalam menggagas pesantren sebagai promotor HAM dan penanganan konflik secara damai, yaitu: Pesantren langsung menjadi pintu perdamaian di Jawa Barat; program-program pesantren menjawab kebutuhan masyarakat, sehingga bila terjadi konflik maka masyarakat bekerjasama dengan pesantren dalam penyelesaiannya; pesantren mempromosikan perdamaian melaui kearifan-kearifan local; pesantren mengadakan workshop di setiap kabupaten agar terjadi pemerataan pemahaman HAM secara utuh; pesantren membentuk komunitas pemerhati HAM di lingkungan pesantren; pesantren mendatangkan para ahli dan aktivis HAM ke pesantren untuk dialog; pesantren membuat kurikulim HAM yang berbasis pesantren di Jawa Barat; pesantren mengadakan pelatihan resolusi konflik; pesantren menyelenggarakan pelatihan teknik mediasi dan arbitrase; pesantren memasukan materi manajemen konflik dalam kurikulum pesantren; dan pesantren membudayakan perilaku tasamuh di kalangan santri. [Wahidah Rosyadah/LH].

 

 

  • 0 comment
  • Read 294 times
Login to post comments