Pesantrenforpeace.com - Semarang, (1-3/11) Integritas bangsa Indonesia, atau yang lebih populer dengan sebutan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), akhir-akhir ini mendapatkan gempuran begitu luar biasa dengan bermunculannya  paham-paham radikal di berbagai antero negeri. Berita-berita yang mengarah pada gejolak “radikalisme” seakan sudah begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia dan selalu menjadi “trending topic” di berbagai media elektronik. Hal demikian tentunya menjadi ancaman yang cukup serius bagi keberlangsungan Negara Republik Indonesia yang dibangun atas asas kesatuan dan persatuan dalam keberagaman, sebut saja NKRI.

Dalam menanggulangi situasi “genting” yang menimpa NKRI tersebut, Center for The Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang didukung sepenuhnya oleh Konrad Adenauer Stiftung (KAS) dan Uni Eropa (UE), kembali menggelar acara “Pesantren For Peace (PFP).” Acara PfP yang digelar selama tiga hari berturut-turut, tepatnya pada tanggal 1-3 November 2016, diikuti oleh 30 peserta yang merupakan delegasi dari 30 Pondok Pesantren di Jawa Tengah.

Sasaran peserta yang terbatas pada kalangan Pesantren tentunya tidak terlepas dari peran pesantren yang selama ini menjadi “kantong-kantong” penyebaran pemahaman ke-Islaman. Akhir-akhir ini, pesantren seringkali dipandang sebelah mata dan bahkan tidak jarang pula yang menuduh pesantren sebagai sarang terorisme. Oleh karena ini, kegiatan ini sejatinya merupakan bentuk penegasan kembali tentang peran pesantren sebagai salah satu benteng pertahanan NKRI, khususnya dari bahaya serangan radikalisme.

Terkait dengan hal tersebut, acara dilaksanakan di Pondok Pesantren Edi Mancoro ini mengangkat tema “Membangun Pemahaman Perdamaian Berbasis Pesantren Perspektif HAM.”  Melalui tema tersebut, kegiatan ini digelar untuk mencetak dan membentuk pemahaman bagaimana menjadikan nilai-nilai “perdamaian” sebagai perspektif berbangsa dan bernegara di lingkungan pesantren. M. Hanif, M.Hum. (Ketua Yayasan Edi Mancoro) menyatakan bahwa “Sebagai lembaga pusat pengajaran dan penanaman nilai-nilai keislaman yang berbasis keindonesiaan, Pesantren harus berada pada garda terdepan dalam menjaga dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari bahaya radikalisme. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai perdamaian sebagai perspektif berbangsa dan bernegara di lingkungan Pesantren diharapkan mampu menjadi resolusi konflik demi menjaga keutuhan NKRI.”

Menjadikan Pesantren sebagai sasaran utama dalam kegiatan Workshop ini tentunya menjadi begitu relevan jika dikaitkan dengan tujuan pelaksanaan kegiatan ini; yakni membangun pemahaman “perdamaian” sebagai perpspektif berbangsa dan bernegara di lingkungan pesantren. Lebih jauh dari itu, para peserta diharapkan mampu menularkan perspektif “perdamaian” yang telah diperolehnya ke berbagai pelosok negeri, khususnya di lingkungan pesantren tempatnya menimba pengetahuan.

Acara PfP yang dihadiri langsung oleh Ibu Saiti Gusrini (perwakilan Uni Eropa Indonesia), Dr. Irfan Abu Bakar (Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Idris Hemay (Kord. PfP Jakarta),  menghadirkan narasumber-narasumber yang cukup kompeten di bidangnya masing-masing. Materi “Perdamaian dalam Perspektif HAM dan Islam” disampaikan oleh Dr. Sidqan Prabowo (Dosen Undip Semarang) dan Aji Nugroho, M.Pd.I (Dosen IAIN SAlatiga), materi “Toleransi dalam Keberagaman Agama, Kultur, dan Budaya” disampaikan oleh KH. M. Dian Nafi (Syuriyah PWNU Jawa Tengah), dan materi “Revitalisasi Peranan Pesantren dalam Penanganan Konflik secara Damai”  disampaikan Fahsin M. Fa’al, M.Si (Pengurus GP. Anshor Jateng). Pada malam terakhir workshop, digelar malam perdamaian yang berisi pementasan dari para peserta dan panitia, yang difasilitasi oleh Muhammad Najmuddin Huda, S.Sy. Pada sesi ini peserta memberikan pementasan seperti Puisi, Menyanyi, serta senam Pinguin. Sesi ini ditutup dengan Orasi Budaya yang disampaikan oleh Irfan Abu Bakar, dengan judul “Jika Memang Cinta, Buktikan !”.

Hadir dalam workshop ini, Bupati Kabupaten Semarang, Dr. Mundjirin, S.Pog. yang diundang secara khusus untuk memberikan sambutan sekaligus menutup acara workshop. Dalam sambutannya, Dr. Mundjiri menyatakan bahwa santri merupakan salah satu benteng pertahanan NKRI. “Saya berharap acara seperti ini dapat memberikan pengalaman bagi para santri, sehingga dapat menunjukkan eksistensi mereka dalam mempromosikan HAM dan Perdamaian”, jelasnya di akhir sambutan. Ketika acara mencapai titik akhir, Bapak Bupati membacakan “Deklarasi Santri Cinta Damai” dan diikuti secara khidmat oleh para peserta, panitia, dan seluruh undangan dari berbagai elemen masyarakat yang hadir dalam acara tersebut. [Ahmad Faidy/LH]

 

  • 0 comment
  • Read 425 times
Login to post comments