Print this page

Pesantrenforpeace.com - Yogyakarta, yang dikesankan dengan sebutan kota pendidikan, kota santun, kota budaya dan kota toleran akhir-akhir ini mendapat ujian yang cukup serius. Berbagai tindakan intoleran, bahkan kekerasan dalam beberapa tahun terakhir cenderung meningkat. Isu etnisitas, premanisme dan keagamaan menjadi santer sebagai akar berbagai peristiwa terakhir.

Kegelisahan atas fenomena “”Jogja Baru” itulah yang mendasari Pondok Pesantren Sunan Pandanaran untuk menggelar acara Workshop tingkat Provinsi dengan menggandeng pesantren-pesantren se-DIY dengan tema "Peningkatan Peran Pesantren dalam Meneguhkan Kembali Yogya sebagai City of Tolerance". Kegiatan yang berlangsung pada 4-6 Nopember 2016 dan bertempat di D’Salvator hotel ini merupakan salah satu upaya  pesantren untuk berperan aktif dalam pelbagai persoalan masyarakat. “Kami berharap pesantren mamainkan peranannya dalam mengampanyekan Islam yang toleran demi terciptanya kembali Yogya sebagai City of Tolerance,” ungkap Mohamad Yahya, Ketua Panitia.

Selain itu, forum yang dihadiri 30 ustadz/ustadzah Pesantren di seluruh DI Yogyakarta ini juga dimaksudkan untuk mempertajam, memperkuat serta menegaskan kembali bahwa Islam itu penuh dengan perdamaian, menghargai perbedaan, menjunjung tinggi martabat kemanusiaan, dan selalu mengedepankan dialog. “Saya berharap melalui acara ini dapat menghasilkan nilai-nilai positif, terutama tentang pola pikir kita soal bagaimana menghargai dan mengembangkan toleransi di masyarakat,” kata Kyai Sakhok.

Acara yang bekerja sama dengan CRSC UIN Jakarta, Konrad Adenauer Stiftung (KAS), didanai oleh Uni Eropa, dan didukung oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri RI) ini menghasilkan berbagai rumusan strategis. Salah satu rumusan yang disepakati dalam acara ini adalah bahwa pesantren dengan segala unsurnya, kiai, ustadz, santri, serta kegiatan sehari-hari harus mencerminkan dan menjadi agen toleransi di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. “pesantren merupakan miniatur toleransi dalam Islam. Oleh karena itu, tak ada alasan untuk tidak mngedepankan sikap toleran dalam berbagai aspeknya” ungkap Ustadzah Nafisah yang dinobatkan sebagai peserta terbaik. Kampanye toleran disepakati sebagai perjuangan yang harus dilestarikan oleh pesantren dalam menjaga Jogja dan Indonesia yang multikultur ini.

“Saya sangat bahagia. Saya melihat langsung dialog dan diskusi yang dilakukan oleh ustadz/ustadzah pesantren dengan penuh dinamika. Inilah Islam Indonesia yang sesungguhnya. Ini penting terutama bertepatan dengan digelarnya aksi masa 4 Nopember 2016. Akan banyak pertanyaan dan pasti Saya kabarkan berita baik ini ke teman-teman di Eropa.” Ungkap Gusrini Saidi, perwakilan Uni Eropa yang hadir dan berkesempatan menutup acara ini. (HM-M)

  • 0 comment
  • Read 369 times
Login to post comments