Print this page

Pesantrenforpeace.com - Yogyakarta (27/11) Beberapa waktu lalu, Gus Mus (KH Musthofa Bisri, Rembang) dicaci maki oleh salah seorang netizen di media social twitter. Ia tidak sepaham dengan pendapat Gus Mus, yang menyatakan bahwa tidak ada shalat jum’at di jalanan. Namun sangat disayangkan, ia malah menghina Gus Mus di laman twitternya. Hal ini yang membuat Nashif ‘Ubbadah, ketua panitia Local Day of Human Rights prihatin. Pengguna internet belum bisa bijak menyikapi perbedaan, yang sebetulnya adalah fitrah dan rahmat bagi manusia.

Seminar Local Day of Human Rights kedua ini mengambil tema HAM, Perdamaian dan Toleransi dalam Perspektif Islam. Para pemateri adalah para peserta terbaik dari workshop Pesantren for Peace tingkat Kabupaten Demak di PP Kyai Gading dan tingkat Provinsi Jawa Tengah di PP Edi Mancoro lalu.

Muchtadlirin, selaku perwakilan dari CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyebut, bahwa tujuan program Pesantren for Peace diantaranya adalah menyebarkan perdamaian, menjunjung toleransi antar agama atau intern agama, dan memberikan pemahaman tentang HAM. Beberapa kasus pelanggaran HAM baik berat ataupun ringan tidak bisa dibenarkan. Maka perlu upaya massif di Indonesia ini dalam mengusahakan perdamaian dan HAM dijunjung tinggi. Upaya konkret yang dilakukan diantaranya adalah pelibatan ratusan pesantren di lima provinsi di pulau Jawa dalam berbagai kegiatan yang bertujuan mempromosikan nilai-nilai toleransi, perdamaian dan HAM.

Sebagai umat Islam, kita perlu memupuk nilai-nilai toleransi dengan cara tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, menghormati kepercayaan orang lain, saling membantu dalam kebaikan, dan saling menasehati, ujar Putri Lestari, salah satu pemateri dari PP Al-Anshori. Pemateri cantik yang datang jauh-jauh dari Surakarta ini berpendapat, dalam toleransi terdapat usaha mencari titik temu yang unggul diantara perbedaan yang ada, hingga nampaklah keindahan yang bernama harmonis.

Sementara Muhammad Labib dari PP An-Nuhudliyyah Demak menitik beratkan peranan pesantren sebagai agen perdamaian. Selain menjadi center of knowledge, pesantren bertanggung jawab atas perdamaian di Indonesia. Kyai-kyai menggunakan metode hikmah, mauidhoh hasanah & mujadalah billati hiya ahsan, sebagaimana perintah dalam Al-Qur’an, bila menghadapi perbedaan kepentingan. Inilah yang ia namakan dakwah penebar kedamaian.

Ahmad Mundzir berupaya mengambil benang merah HAM dalam teks-teks agama Islam. Dalam beberapa ayat suci Al-Qur’an, HAM dilindungi dan tidak bisa dibinasakan. Hak untuk memeluk agama dan kepercayaan masing-masing tanpa ada paksaan tercantum dalam ayat QS. Al-Baqarah: 256. Kesetaraan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam QS. An-Nahl: 97. Adanya piagam madinah sebagai consensus warga madinah yang terdiri dari beragam latar belakang agama, suku, dan tingkat kesejahteraan juga salah satu bukti bahwa Islam sangat identik dengan penghormatan HAM. Karena segala ucapan, perbuatan, hingga persetujuan Nabi Muhammad adalah sunnah, maka piagam madinah juga termasuk sunnah. Ini menandakan bahwa orang yang alergi terhadap HAM, maka ia kurang mendalami Al-Qur’an, hadits & sejarah Islam. [Nashif/LH]

 

  • 0 comment
  • Read 320 times
Login to post comments