Pesantrenforpeace.com – Surabaya (27/11) Pondok Pesantren Darut Tauhid Surabaya kembali menggelar seminar Local Day of Human Rights yang kedua kalinya, bekerja sama dengan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan dari UNI Eropa. Tema yang diambil dalam seminar ini adalah “Peran Pesantren dalam mempromosikan nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM) serta Penyelesaikan konflik secara damai di Jawa Timur”

Seminar yang diselenggarakan di Quds Royal Hotel ini bertujuan untuk meningkatkan peran pesantren  dalam rangka mempromosikan nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM) dan penyelesaian konflik secara damai di Jawa Timur sesuai Maqasid al-Syari’ah.

Dalam sambutannya, ketua panitia seminar, Ustadz Syaiful Anam menyampaikan bahwa  peserta yang hadir dalam seminar ini sebanyak 30 peserta yang berasal dari beragam kalangan, diantaranya ada perwakilan dari Ustadz/ustadzah, santri, organisasi pemuda, organisasi masyarakat, organisasi IPNU/IPPNU, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiyatul Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, GP Anshor, remaja masjid,majlis ta’lim dll.

“Seminar kali ini berbeda dengan seminar sebelumnya yang dilaksanakan di Pondok pesantren, kali ini dilaksanakan di hotel dengan fasilitas yang jauh lebih baik dari pada seminar pertama,” tambah Syaiful.

Pembukaan seminar ini dihadiri langsung oleh Koordinator project Pesantren for Peace, Idris Hemay, M.Si beserta timnya, Junaidi Simun dan Haula Sofiana.  Hadir pula dari kalangan pemerintah, Ibu camat kecamatan Semampir, Hj. Hindun Robba. H, S.Pd, SE, M.S.i.

Dalam sambutannya di acara pembukaan seminar, Ibu Camat kecamatan Semampir sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena mendorong semangat perdamaian di Surabaya, Jawa Timur, bahkan Indonesia, dan juga mendukung program pemerintah dalam mempromosikan perdamaian. Hindun menambahkan, kegiatan semacam ini diharapkan mampu membangun hubungan, pola komunikasi, dan meningkatkan toleransi antar umat beragama dalam rangka mendorong terciptanya perdamaian lintas agama. “harapannya, pemerintah dapat bersinergi dengan masyarakat untuk menginisiasi kegiatan seperti ini di masa yang akan datang,” lanjut Hindun.

Koordinator Project Pesantren for Peace, Idris Hemay, M.Si juga sangat mengapresiasi kegiatan seminar ini. Melalui sambutannya, ia menyampaikan bahwa kehadiran Pesantren for Peace adalah untuk lebih meningkatkan peran pesantren dalam penyelesaian konflik dengan cara-cara damai. Konflik sosial yang seringkali terjadi tak jarang melibatkan varian agama sebagai pemantiknya. Di situlah diharapkan pesantren dapat mengambil peran. Karenanya, acara-acara seperti ini menjadi momentum yang sangat relevan.

Hadir sebagai pembicara dalam seminar ke 2 ini, 3 orang peserta pilihan dalam workshop tingkat kab/kota dan Jawa Timur, Alfiyatun marjan PP. Annuqoyah Sumenep (peserta workshop tingkat kota/kab) , Ali Wafa Mukhtar, dan Shofiyatun Nikmah yang sebelumnya telah mengikuti workshop tingkat propinsi di puri gendis trawas mojokerto pada 26-28 Oktober 2016.

Hadir pula sebagai narasumber pembanding, Musriyah, S.Pd.I yang menjelaskan perihal peran pesantren dalam mempromosikan hak asasi manusia serta penyelesaian konflik secara damai di Jawa Timur.

“Dalam kiprahnya, Pesantren menganut nilai-nilai Rahmatan lil alamin. Rahmat adalah sikap kasih sayang dan lemah lembut yang mendorong seseorang untuk berbuat Ihsan (berbuat baik) kepada orang yang dikasihani. Caranya adalah dengan menjalin, menanamkan, menumbuhkan al-Ulfah dan al-Ukhuwah. Ulfah adalah kerukunan dan kebersamaan, sedangkan Ukhuwah adalah persaudaraan. Kedua hal ini adalah buah yang dihasilkan oleh husn al-khuluq (akhlak mulia),” papar Musriyah.

Koordinator Pesantren for Peace, Idris Hemay, mengatakan bahwa ketiga narasumber seminar mempresentasikan hasil workshopnya masing-masing dengan sangat baik. Diskusinya juga menarik, karena pertanyaan-pertanyaannya sangat menantang bagi para narasumber. Dinamika diskusi seminar kali ini lebih bagus dari pada seminar sebelumnya, ini menunjukkan bahwa panitia banyak belajar dari pengalaman untuk memperbaiki kualitasnya. [LH]

  • 0 comment
  • Read 393 times
Login to post comments