pesantrenforpeace.com – Jakarta (04/12/2016) Perdamaian telah lama menjadi isu paling penting di dunia. Kondisi global saat ini menunjukkan suasana yang sangat tidak nyaman bagi warga dunia dalam melakukan segala aktifitas untuk memakmurkan bumi dan penghuninya. Kondisi ekonomi Eropa yang tergoncang hingga menimbulkan keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa atau dikenal dengan Brexit, konflik Timur Tengah di Suriah, terpilihnya Donald Trump sebagai pemimpin tertinggi negara adidaya Amerika Serikat yang diikuti gelombang besar penolakan warganya akibat sikap kampanye rasial Trump terhadap imigran khususnya warga Islam Amerika, serta tragedi kemanusiaan Rohingya yang tidak kunjung usai dan menyisakan rasa kesedihan yang mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia, memanggil Indonesia untuk turut serta berperan dalam membangun perdamaian dunia. Terlebih, setelah umat Islam Indonesia berhasil membuat hajatan nasional yang menunjukkan bukti nyata kepada dunia bahwa umat Islam di Indonesia adalah warga global yang damai dan tidak mudah dipecah-belah oleh siapapun.

Berbekal sejarah panjang pesantren dalam mengawal Indonesia keluar dari masa penjajahan ke depan pintu gerbang kemerdekaan dan menjadi negara berdaulat, serta menjadi anggota masyarakat internasional yang menjaga perdamaian dunia, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam warisan peradaban Nusantara diharapkan tampil kembali memainkan perannya dalam menjaga perdamaian bangsa-bangsa, dari tingkat lokal, nasional, regional, hingga global.

Untuk alasan tersebut, Pesantren Darunnajah 8 bekerjasama dengan Center for Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) untuk Indonesia-Timor Leste dengan dukungan Uni Eropa (EU) dan Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia, kembali menyelenggarakan seminar Local Day of Human Rights dengan tema  “Peran Pesantren dalam Membangun Perdamaian Berdasarkan Hak Asasi Manusia dan Islam”. Sebelumnya, Pesantren Darunnajah 8 juga telah menyelenggarakan seminar yang sama dengan tema “Memperkuat Tradisi Pesantren Sebagai Basis Pendidikan Perdamaian” pada 27 Agustus 2016.

Kegiatan seminar setengah hari ini diselenggarakan di Aula Empat Windu Pesantren Darunnajah Jakarta Selatan dengan menghadirkan lima narasumber. Empat narasumber adalah peserta terbaik dari ustadz-ustadzah pesantren di Jabodetabek yang mengikuti workshop Pesantren for Peace tingkat kabupaten dan propinsi yang masing-masing diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Annajah Bogor dan Madinatunnajah Jombang Ciputat Tangerang. Sedangkan satu narasumber lain adalah pengasuh Pesantren Madinnatunajah Jonggol, KH. Mardhani Zuhri, yang berpengalaman membidangi pendirian pesantren-pesantren dan berkeliling dunia dalam misi memperkenalkan pramuka santri sebagai agen perdamaian.

Dibuka dengan lantunan surat Al Hujurat ayat 13 dan Lagu Indonesia Raya, kegiatan ini mengajak para peserta dari berbagai lembaga pendidikan dan organisasi masyarakat untuk kembali menggali modal semangat perdamaian dari Al Quran dan sejarah Indonesia.

Sarah Sabina Hasbar sebagai perwakilan dari KAS Jerman kembali memberi sambutan dalam acara pembukaan. Menurutnya, kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan kontribusi dan peran penting pesantren dalam membangun perdamaian di Indonesia dan dunia. “Ini adalah seminar Local Day of Human Rights ke-2 yang diselenggarakan Pesantren Darunnajah 8. Kami berterima kasih kepada panitia penyelenggara yang telah mensukseskan kegiatan ini, serta telah ikut berperan dalam mendukung pendidikan perdamaian, pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai di Indonesia.”, jelas Sarah dalam pidato sambutannya.

Afthon Lubbi sebagai ketua panitia menambahkan dalam sambutan pembukaanya, bahwa pesantren dipilih menjadi institusi pendidikan perdamaian karena lembaga ini merupakan model pendidikan khas Indonesia yang telah berpuluh bahkan berabad-abad menjadi garda terdepan dalam mengajarkan welas asih dan kasih sayang sebagai modal utama dalam mewujudkan perdamaian dunia yang abadi.

Menurutnya lagi, di Barat khususnya negara Amerika Serikat, umat Islam dilindungi dan dibela hak-haknya oleh aktivis Hak Asasi Manusia. “Ini tidak banyak diungkap media, termasuk media Islam. Bahwa para aktivis HAM juga berusaha menjelaskan kepada masyarakat Barat yang terjangkiti Islamophobia, bahwa Islam adalah ajaran kasih sayang dan perdamaian. Bahkan para peneliti perdamaian dari Harvard University dengan tegas menyuarakan kepada dunia tentang apa yang terjadi terhadap etnis Rohingya di Myanmar adalah kejahatan genosida yang dilakukan militer negara pimpinan Aung San Suu Kyi”, ujarnya dalam sesi rehat kepada beberapa peserta.

Para ustadz dan ustadzah narasumber menceritakan pengalaman mereka setelah mengikuti workshop di tingkat kabupaten dan propinsi. Ustadz Acep Jurjani dari Pesantren Annajah Bogor menuturkan pengalamannya dalam aksi damai 02 Desember di Monas Jakarta. Menurutnya, keadilan hukum adalah syarat terjadinya perdamaian. Jika hukum tidak ditegakkan, maka kedamaian akan sulit tercapai. Para tokoh-tokoh intelektual dalam konflik perlu diajak berdialog dan berdiskusi untuk mencari solusi bersama demi terwujudnya suasana damai di negeri tercinta.

Ustadzah Nurul Fizriyah dengan semangat berapi-api menjelaskan instrumen-instrumen dalam pesantren yang bisa dimaksimalkan dalam membangun perdamaian. Senada dengan Ustadzah Nurul, Ustadz Moh. Hasyim dari Pesantren Miftahul Ulum Jakarta menambahkan perlunya masyarakat pesantren untuk melatih santri-santrinya mulai dari hal-hal yang kecil, semisal mendidik bagaimana mancari solusi konflik jika terjadi keributan antar santri yang diakibatkan pencurian sandal atau di kalangan pesantren biasa disebut ghosob na’el.

Sebagai penguat, Ustadz Saiful Mi’roj dari Pesantren Annajah Bogor dengan gaya bicaranya yang lembut dan tenang, berusaha merangkum semua materi dengan cukup detail dan terperinci. Menurutnya, perdamaian akan terwujud jika hak-hak setiap manusia dipenuhi.

Pada sesi terakhir, KH. Mardhani Zuhri memaparkan peran nyata pesantren dalam membangun perdamaian di masyarakat. Menurutnya, Perdamaian adalah kata yang mudah diucapkan namun terkadang sulit dilakukan saat seseorang terjebak egosentris kelompok, budaya, ekonomi dan diperparah oleh pemberitaan rancu dan kebohongan akut.

Oleh karena itu, masih menurut Kiyai Mardhani, kalimat perdamaian telah dijadikan premis pada semua langkah pembinaan di pesantren dalam upaya menciptakan kedamaian di lingkup lokal, nasional, regional dan dunia.

Tidak hanya pidato belaka, pengasuh pesantren ini menyebutkan langkah-langkah konkrit pesantren dalam membangun perdamaian, dari skala yang paling kecil hingga paling besar antar bangsa. Semisal pertukaran santri dan guru pesantren dengan lembaga lain di dalam dan luar negeri yang berbeda suku, budaya, dan agama. Ikut serta dan memprakarsai perkemahan pelajar antar bangsa-bangsa sebagai calon pemimpin dunia di masa depan. Serta kegiatan-kegiatan lain yang mempertemukan generasi muda antar negara dalam skala internasional agar saling mengenal, saling mengerti, memahami dan menghormati keragaman.

Dari pemaparan oleh pemateri-pemateri di atas, diskusi tanya-jawab dengan peserta seminar semakin menarik. Akan tetapi karena terbatasnya waktu, Ustadz Arsan sebagai moderator harus mengakhiri seminar ini, dan mengajak semua peserta dan pemateri untuk berfoto bersama sebagai kenangan-kenangan kegiatan.

Setelah kegiatan ini, diharapkan meningkatnya peran pesantren di daerah Jabodetabek dan masyarakat dalam rangka mempromosikan dan mengadvokasikan nilai-nilai toleransi, HAM dan penyelesaian konflik secara damai. Terlebih, adanya kekhawatiran masyarakat akan terjadinya konflik di Indonesia karena adanya potensi ke arah tersebut seperti peristiwa Arab Spring di Timur Tengah. [Aft]

  • 0 comment
  • Read 341 times
Login to post comments