Pesantrenforpeace.com – Bandung (27/11) Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU) menggelar  diskusi panel Local Day of Human Rights kedua sebagai implementasi dari program Dana Hibah Pesantren for Peace yang diprakarsai oleh CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dengan dukungan dari Uni Eropa.

Halaqoh kedua acara diskusi panel Local Day of Human Rights ini mengusung tema “Peran Pondok Pesantren dalam Inisiasi, Promosi, Advokasi, dan Implementasi Nilai-nilai HAM,Toleransi, dan Resolusi Konflik secara Damai dan Bermartabat”.

Kemajemukan Indonesia merupakan sebuah keniscayaan. Berbagai etnis, suku, serta agama dan beberapa aliran kepercayaan hidup di bumi yang kita cintai ini ibarat mozaik nan indah. Kemanjemukan ini membentuk falsafah hidup bangsa:  “Bhineka Tunggal Ika” (berbeda-beda tapi satu jua). Namun, jika kemajemukan tersebut tidak mampu dikelola secara baik, ia menyimpan potensi konflik yang sangat besar dan dapat memporak-porandakan bangsa.

“Pondok Pesantren adalah institusi penting dalam masyarakat Indonesia yang dalam perjalanan sejarahnya telah terbukti mampu mengangkat kehidupan masyarakat di sekitarnya. Keberadaan Pondok Pesantren di tengah-tengah masyarakat memiliki kedudukan dan peranan yang sangat strategis, tidak terbatas dalam bidang pendidikan dan dakwah. Pondok pesantren secara aktif terlibat sebagai inisiator dalam membangkitkan semangat dan gairah masyarakat untuk meraih kehidupan yang lebih baik serta membangun budaya damai tanpa kekerasan”, tutur Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU), Dr. KH. Tatang Astarudin, S.Ag, SH, M.Si dalam sambutannya.

Keynote speaker pada kegiatan ini, Sekretaris daerah provinsi Jawa Barat, Iwa Karniwa menyampaikan bahwa pemerintah daerah mengapresiasi dan akan terus mendukung kegiatan-kegiatan serupa yang membantu pemerintah dalam membangun perdamaian khususnya di Jawa Barat. Menurutnya dengan keanekaragaman dan bangunan perdamaian yang kuat di Indonesia dapat menampilkan citra Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang  ramah dan cinta damai.

Narasumber dalam diskusi panel ini terdiri dari 3 orang ustadz yang terlibat dalam kegiatan workshop tingkat Provinsi dan Kabupaten, yaitu Ahmad Hidayat yang menjelaskan terdapat kearifan lokal, yakni "Tanbih" yang dapat digunakan untuk memberikan Pemahaman HAM dan Penanggulangan Konflik Secara Damai khususnya di Ciamis; Ridwan yang menyampaikan langkah-langkah dalam penyelesaian konflik; serta Ahmad Dasuki yang menjelaskan bahwa selama nilai-nilai HAM tidak bertentangan dengan Islam, HAM dapat terus untuk digali dan dihormati.

Sementara itu Narasumber Utama yakni kepala bidang pendidikan diniyyah dan pondok pesantren Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Dr. KH. Abu Bakar Sidik, M.Ag memaparkan  tentang penguasaan kedalaman pada kajian yang diajarkan di pondok pesantren akan menghadirkan sikap yang lebih arif dalam memandang perbedaan. Beliau mencontohkan ketika seorang telah banyak mengkaji kitab-kitab rujukan, maka keterbukaan pemikiran dan sikap toleransi pun akan tumbuh dan tidak mudah menyesatkan orang lain.

Diakhir acara, Dr. Chaider. S. Bamualim, MA dari pihak CSRC UIN Jakarta memberikan apresiasi tinggi ke pihak PPMU karena berhasil menggelar kegiatan ini. Diharapkan para peserta diskusi panel yang terdiri dari 30 orang ustadz dan ustadzah di kota Bandung dan sekitarnya dapat terus mempromosikan HAM dan perdamaian kepada umat dilingkungannya masing-masing.

Diskusi panel ini telah mampu untuk menguatkan tradisi peran pesantren dalam inisiasiasi dan implementasi nila-nilai HAM , toleransi dan resolusi konflik secara damai dan bermartabat ditengah gelombang kecurigaan masyarakat pada stigma pesantren sebagai ‘sarang’ radikalisme. Islam yang mencintai damai, Islam yang toleran ditengah perbedaan yang terjadi.[ppmu]

  • 0 comment
  • Read 305 times
Login to post comments