Pondok Pesantren Daruttauhid kembali menyelenggarakan seminar Local day of Human Rights untuk ketiga kalinya pada tanggal 19 Februari 2017. Kegiatan seminar ketiga ini diselenggarakan di Aula Gedung MTsN yang beralamat di Jl. Soekarno Hatta No.7 Kota Bangkalan Madura Jawa timur. Tema yang diusung dalam kegiatan ini adalah “Peran Pesantren dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi, HAM serta membangun perdamaian di Jawa Timur”.

Seminar ini menghadirkan lima narasumber, empat diantaranya merupakan peserta pertukaran santri, yaitu Dhiya’atul Haq dan Masluhah, santri dari PP. Assalafi Al Fithrah Kota Surabaya yang melakukan riset di PP. Nurul Ummahat Yogyakarta serta Abdul Warist dan Imam Fauroni, santri PP. Annuqoyah Guluk-guluk sumenep yang juga ditugaskan melakukan riset di PP. Edi Mancoro Semarang sedangkan narasumber yang lain adalah bapak Mahsan, SH.i, M.Pd.I salahsatu dosen di Unversitas Surabaya (UBAYA).

Acara diawali dengan pembukaan ummul qur an surat Al Fatihah dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia dalam hal ini disampaikan oleh M. Saiful Anam, M.Pd.I,. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa disetiap Negara pada umumnya, bahkan di setiap wilayah pasti pernah terjadi yang namanya konflik, entah itu Konflik sosial, antar kelompok sosial antar Negara, antar organisasi, antar partai politik Dan konflik antara individu dengan kelompok, untuk itu agar konflik tidak berkepanjangan perlu adanya sosialisasi atau penjelasan tentang pentingnya toleransi, memahami hak asasi mausia dan perdamaian, dari itu panitia sangat berterimakasih kepada koordinator program pesantren for peace yang telah memberi bantuan dana subgrant sehingga panitia bisa ikut berpartisipasi dalam mempromosikan HAM dan membangun perdamaian di Jawa Timur.

Idris Hemay, M.S.i sebagai koordinator program PFP kembali memberi sambutan dalam acara pembukaan. Menurutnya, kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan kontribusi dan peran penting pesantren dalam membangun perdamaian di Indonesia khususnya di Jawa Timur. “Ini adalah seminar Local Day of Human Rights ke-3 yang diselenggarakan Pesantren Darut Tauhid Semampir Kota Surabaya. Kami berterima kasih kepada panitia penyelenggara yang telah mensukseskan kegiatan ini, serta telah ikut berperan dalam mendukung pendidikan perdamaian, pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai di Indonesia.”, jelas idris hemay dalam pidato sambutannya, beliau menambahkan bahwa kesuksesan seseorang bukan hanya karna dia itu pintar tetapi sangat didukung dengan komitmen yang tinggi.

Para santri narasumber menceritakan pengalaman mereka setelah mengikuti program pertukaran santri. Dhiya’atul Haq dari Pesantren Assalafi Al Fithrah menuturkan pengalamannya selama di PP. Nurul Ummahat Yogyakarta. Menurutnya, Ponpes Nurul Ummahat mengajarkan para santri untuk bisa lebih berpandangan terbuka, modernis, moderat dan manusiawi dalam melihat segala perbedaan. Tentu saja ini sesuai dengan visi pondok pesantren. Ketika kita memandang dengan cara kemanusiaan, kita sudah tidak mengenal istilah mayoritas maupun minoritas. Karena semua orang harus dihormati dan dihargai tanpa memandang perbedaan. Karena dengan cara pandang itulah, yang mampu mendobrak berbagai sekat-sekat politik, teologis dan sosial. Karena tanpa itu, maka sulit bagi kita mewujudkan toleransi dan kerukunan didalam masyarakat Indonesia yang multikultural ini.  Selain itu bagaimana kita bisa merubah cara pandang kita dari cara teosentris menjadi antroposentris dalam melihat perbedaan. Karena bagaimanapun juga tidak ada titik temunya bila kita hanya melihat secara teosentris, namun bila kita lihat dari segi antroposentris, maka segalanya akan lebih masuk akal dan etis. Bukankah kita semua makhluk Tuhan dan segala perbedaan yang ada merupakan sunnatullah.

Masluhah dengan semangat berapi-api dengan khas maduranya menjelaskan peran pesantren Nurul Ummahat dalam membangun perdamaian, pesantren tersebut sangat welcome pada setiap orang yang datang untuk bertamu. Terhitung sudah 77 negara yang pernah berkunjung ke pesantren tersebut, baik itu Islam, Kristen, Konghucu bahkan yang tidak punya agama. Senada dengan Abdul Warits, Imam Fauroni dari Pesantren An Nuqoyah Guluk-guluk Sumenep, mereka menambahkan perlunya masyarakat pesantren untuk melatih santri-santrinya mulai dari hal-hal yang kecil, semisal mendidik bagaimana mancari solusi konflik jika terjadi keributan antar santri yang diakibatkan pencurian sandal atau di kalangan pesantren biasa disebut ghosob.

Sebagai penguat dan narasumber pembanding, Bapak Mahsan, SH.i, M.Pd.I salah satu dosen agama di Universitas Agama di Universitas Surabaya dengan gaya bicaranya yang lembut dan tenang, berusaha merangkum semua materi dengan cukup detail dan terperinci. Menurutnya, perdamaian akan terwujud jika hak-hak setiap manusia dipenuhi. Ia memaparkan peran nyata agama Islam khususnya pesantren dalam membangun perdamaian di masyarakat. Menurutnya, Perdamaian adalah kata yang mudah diucapkan namun terkadang sulit dilakukan saat seseorang terjebak egosentris kelompok, budaya, ekonomi dan diperparah oleh pemberitaan rancu dan kebohongan,

Oleh karena itu,menurut beliau, kalimat perdamaian telah dijadikan premis pada semua langkah pembinaan di pesantren dalam upaya menciptakan kedamaian di lingkup lokal, nasional, regional dan dunia sesuai tujuan berdirinya pesantren yaitu rahmatan lil’alamin.[DT]

 

 

 

 

 

 

 

  • 0 comment
  • Read 244 times
Login to post comments