Pondok Pesantren Al Luqmaniyyah menyelenggarakan seminar sehari tentang toleransi dan Hak Asasi Manusia bertajuk Local Day of Human Right pada Minggu (26/2) hasil kerjasama dengan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta. Seminar yang diselenggarakan di Aula Pondok Pesantren Al Luqmaniyyah itu mengangkat tema “Menumbuhkan Peran Pesantren dalam Membangun Kerukunan Umat Beragama di Indonesia.”

Hadir dalam seminar itu empat santri peserta program pertukaran santri yang difasilitasi oleh program Pesantren for Peace CSRC UIN Jakarta. Mereka adalah M. Amjad Maulana (PP. Sunan Pandanaran), Toipah (PP. Sunan Pandanaran), Zainab (PP. Nurul Ummahat), dan Siti Magfiroh (PP Al Munawwir Komplek Nurussalam).

M. Amjad Maulana dan Toipah menyampaikan proses pembangunan toleransi dan perdamaian di Pondok Pesantren Sirnarasa Ciamis tempat mereka melakukan pertukaran santri. Sementara Zainab dan Siti Magfiroh menyampaikan proses toleransi dan implementasi pembangunan perdamaian di Pondok Pesantren Madinatunnajah Ciputat, Tangerang Selatan.

Pesantren Sirnarasa mempunyai cara yang khas dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi, yakni dengan membacakan tanbih atau sebuah wasiat dari seorang guru untuk muridnya dan bersifat turun temurun setiap generasi. Tanbih itu dibacakan setiap acara manaqiban layaknya pembacaan UUD pada upacara.

“Dalam tanbih disebutkan bahwa harus menyayangi orang yang membencimu. Wasiat dari guru itu tentu harus diamalkan murid-muridnya, bukan sekadar wacana melainkan pijakan untuk setiap tindakan nyata,” kata Toipah.

Sementara itu, Pondok Pesantren Madinatunnajah yang menjadi tempat Zainab dan Siti Magfiroh dalam program pertukaran santri telah mengajarkan toleransi pada kehidupan sehari-hari di pesantren. Ajaran toleransi di pesantren in mempunyai banyak ragam dari segi ibadah, sosial, maupun yang lainnya. Promosi toleransi selalu disampaikan saat kegiatan belajar, majelis taklim, seminar, khutbah, hingga saat pengabdian masyarakat.

“Para ustadz dan ustadzah selalu memberikan pandangan tentang keragaman manusia kepada para santrinya,” terang Zainab.

Dr. Suhadi dari Center for Religious and Cross-culturan Studies (SRCS) UGM yang menjadi narasumber ahli menegaskan jika toleransi sudah ada sejak zaman nabi dan sahabat. Dr. Suhadi memberikan contoh toleransi yang ada para perjanjian Hudaibiyah. Selain itu, Dr. Suhadi juga menyebut jika KH. Abdurrahman Wahid semasa hidupnya telah sering menyemai perdamaian dan toleransi.

“Gus Dur demi toleransinya rela mengunjungi semua negara yang dinilai basis negara intoleran,” ungkapnya.

Dr. Suhadi pun menegaskan jika menyikapi gerakan intoleran memang bisa berbeda-beda tergantung keberanian setiap individu. Tentunya setiap sikap yang diambil harus siap menerima hujatan dari orang yang tidak sepaham dengan pandangan kita.[LQ]

  • 0 comment
  • Read 230 times
Login to post comments