Pesantrenforpeace - Dari budaya yang ada di pesantren, santri dapat menggali dan merasakan keindahan bertoleransi, kerukunan dan perdamaian. Pesantren ini sejak dahulu telah berinteraksi dengan dunia luar, yaitu dengan pesantren lain dan juga komunitas antar agama. Kyai-kyai berkumpul membuat halaqah dengan semangat belajar dan bermuamalah hasanah dengan tokoh-tokoh dari latar belakang yang berbeda dan dari agama yang berbeda.

Ini yang disampaikan Nashif Ubbadah dalam sambutannya, mewakili pengasuh Pondok Pesantren Al-Muntaha, Ny. Hj. Siti Zulaecho dalam acara Seminar Ketiga Local Day of Human Rights di Pondok Pesantren Al-Muntaha, Ahad 26 Februari 2017 lalu. Seminar kali ini bertema “Penegakan Hak Asasi Manusia, Toleransi dan Membangun Perdamaian dari Pesantren”, menghadirkan 4 pembicara dari dua pesantren yang telah live in selama dua minggu di pesantren lain.

Muchtadlirin selaku perwakilan dari CSRC Uin Syarif Hidayatullah Jakarta dalam sambutannya memaparkan program Pesantren for Peace yang telah berjalan beberapa kali putaran, dan masih akan berlanjut dengan program lain yang tetap melibatkan pesantren-pesantren di pulau Jawa dan Madura. Beliau juga mengatakan, bahwa keunikan sebagian pesantren dalam berinteraksi dengan dunia luar adalah kekayaan pesantren yang menunjukkan sikap toleran, inklusif, dan mau saling berbagi, hal yang susah dilakukan oleh institusi lain yang rigid dalam menyikapi perbedaan.

Kuni Muftihatun dan Hesti Setianingrum, utusan dari PP Edi Mancoro Kab. Semarang mengamati keadaan PP Al-Qur’an Babussalam Bandung. Pesantren ini selalu mendapat fitnah bahwa pesantren ini adalah markasnya kelompok Syi’ah, namun anehnya isu ini selalu berhembus rutin tiap tahun menjelang penerimaan santri baru. Selain itu pengasuhnya, Kyai Muchtar Adam difitnah bahwa beliau adalah tahanan PKI di Puloburu. Padahal beliau memang ditugaskan selama 4 tahun untuk menyuluh agama dan berdakwah kepada para tahanan PKI di Puloburu.

Kyai Muchtar Adam dalam menyelesaikan perkara-perkara tersebut sangat bijak, beliau mengklarifikasi melalui media massa. Bahkan civitas pesantren masih menjalin silaturahmi dengan oknum-oknum yang memfitnahnya. Dan pesantren membuka diri agar orang berdatangan dan menyaksikan secara langsung seluk-beluk pesantren ini, tidak sesuai dengan isu yang berhembus.

Sementara Syaifudin Zuhri dan Ati Fathurrahmawati dari PP Kyai Gading Demak memaparkan pengalaman mereka selama live in di PP An-Najah Bogor. Suatu pengalaman baru bagi mereka, karena pesantren ini adalah pesantren modern, bertolak belakang dengan pesantren asal mereka.

Mengenai kasus kekerasan terhadap ustadz di pesantren ini, disebabkan salah satu santri dihukum karena melanggar peraturan. Pulang dari pesantren, ia lapor kepada orangtuanya. Ayahnya datang ke pesantren dan mencari ustadz yang menghukum anaknya. Karena tidak terima, akhirnya ia melakukan kekerasan kepada ustadz tersebut. Setelah pihak-pihak yang berkonflik dipertemukan dalam forum islah, akhirnya pimpinan pesantren mendamaikan diantara pihak yang berseteru dan menghasilkan kesepakatan bahwa tidak boleh ada kekerasan lagi di pesantren ini.[Nashif Ubbadah]

  • 0 comment
  • Read 160 times
Login to post comments