Print this page

Pesantrenforpeace.com - Bandung (26/2), Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konrad-Adeneur-Stiftung (KAS) untuk Indonesia dan Timor Leste dengan dukungan bantuan hibah dari European Union (EU) mengadakan kegiatan Pesantren For Peace guna menguatkan tradisi dan bangunan perdamaian melalui pondok pesantren. Sebanyak 30 peserta delegasi dari berbagai pondok pesantren disekitar wilayah bandung mengikuti workshop Local day of human right yang berlangsung di Aula utama Pondok Pesantren Mahasiswa Universal Kota Bandung.

Perwakilan CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Junaedi Simun mengatakan, “kegiatan ini merupakan kegiatan yang bersifat riset, dimana kami menganalisis konflik seputar agama yang dilakukan di berbagai Provinsi di Pulau Jawa, Yang hasilnya digunakan untuk membuka wawasan bagi para santri dan Pondok Pesantren. Total, sekitar 70 santri dari 70 delegasi Pondok Pesantren mengikuti kegiatan Pesantren for Peace sampai saat ini”.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 kali, yakni bulan Agustus 2016, November 2016, dan Februari 2017 ini sangat di apresiasi oleh Sekretaris Kecamatan Cibiru, Didin Dikayuana. Didin mengungkapkan, “Dengan hadirnya kegiatan seperti ini selain mengajarkan toleransi, pesantren ikut berperan membantu pembangunan program Walikota Bandung, Ridwan Kamil”.

Kegiatan yang bertemakan Penguatan Jejaring Kerja Santri dan Pondok Pesantren Dalam Implementasi Nilai-Nilai HAM, Toleransi, dan Resolusi Konflik Secara Damai dan Bermatabat ini berlangsung pukul 9.30 hingga 16.30 WIB. kegiatan tersebut diisi oleh 4 presentator hasil pertukaran santri di 5 provinsi di pulau jawa, yakni Rizqi Fadillah (Ponpes Babussalam, Jawa Tengah), Rodia Miftah  (Ponpes Babussalam, Jawa Tengah), Citra Rahmawati (Ponpes Al Basyariah), serta Muhammad Zainal Mustafa (Ponpes Sirnarasa, Jawa Barat).

Dalam workshop tersebut, para presentator menjelaskan hasil pertukaran santri yang diberi waktu selama 2 minggu untuk menjalankan tugas kesantrian di pondok pesantren yang telah di tentukan. Dimana mereka ditugaskan untuk mencari informasi mengenai peran pesantren dalam membangun perdamaian dan resolusi konflik secara damai di pesantren tujuan.

Dari hasil workshop tersebut diperoleh beberapa kesimpulan diantaranya Pondok Pesantren diharapkan mampu membangun dan meningkatkan kesadaran publik untuk meningkatkan toleransi, HAM dan penyelesaian konflik secara damai melalui menjadikan dirinya sebagai ruang publik yang netral dan damai tanpa kekerasan.

Selain itu, pondok pesantren diharapkan juga untuk terus meningkatkan komunikasi mengenai toleransi secara damai, baik dengan masyarakat, santri maupun alumni lulusan pondok pesantren agar terhindarnya stigma negatif yang beredar sebagai pandangan agama yang intoleran dan radikal. [PPMU]

  • 0 comment
  • Read 227 times
Login to post comments