Print this page

pesantrenforpeace.com – Bogor (25/02/2017) “Kegiatan seminar ini memiliki posisi yang sangat penting dalam kondisi Bangsa dan Negara seperti saat ini. Ini adalah tantangan bagi umat Islam, khususnya masyarakat pesantren, dalam menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya”, demikian pidato sambutan Pimpinan Pesantren Annur, KH. Hadiyanto Arief, SH. M.Bs. dalam acara seminar Local Day of Human Rights ke-3 yang diselenggarakan di Mini Hall Al-Hamra Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8.

Setelah kagiatan seminar dibuka dengan lantunan Kalam Ilahi Surat Fushilat Ayat 30-34 dan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya, Pimpinan Pondok memberikan sambutan dengan menuturkan pengalaman pribadi dan pengalaman Pesantren Darunnajah dalam membangun perdamaian dan membina persaudaraan dunia. Menurutnya, Darunnajah sebagai pesantren yang terletak di tengah-tengah Ibu Kota Negara, selalu mejadi tuan rumah sekaligus miniatur toleransi dan persahabatan antar bangsa yang berlatar belakang suku, agama, dan budaya. Berbagai tamu mulai dari sekolah Kristen, duta besar negara-negara dunia Eropa-Amerika, bahkan mantan perdana menteri Inggris Tony Blair, datang silih berganti ingin menyaksikan wajah Islam Indonesia yang damai.

“Selain tamu yang datang berkunjung untuk melihat Islam lewat Darunnajah, setiap tahun kita juga mengirim santri-santri dan guru ke sekolah Kristen di Inggris, Holy Family Catholic School. Siswa-siswi sekolah di sana juga nyantri di sini selama beberapa waktu”, ujar kiai muda lulusan Bristol University tersebut.

Menyambung sambutan tuan rumah, Bapak Idris Hemay, M.Si. selaku koordinator program Pesantren for Peace, memberi apresiasi kepada keberhasilan panitia dalam menyelenggarakan acara. Menurutnya, jumlah peserta acara seminar Local Day of Human Rights kali ini adalah yang terbanyak dari sebelumnya. Lebih dari 100 peserta hadir memenuhi ruangan.

Masih menurut Idris, kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan kontribusi dan peran penting pesantren dalam membangun perdamaian di Indonesia dan dunia. “Ini adalah seminar Local Day of Human Rights ke-3 yang diselenggarakan Pesantren Darunnajah 8. Kami berterima kasih kepada panitia penyelenggara yang telah mensukseskan kegiatan ini, serta telah ikut berperan dalam mendukung pendidikan perdamaian, pencegahan serta penyelesaian konflik secara damai di Indonesia.”, ujar Idris dalam pidato sambutannya.

Seperti dua seminar sebelumnya, kegiatan kali ini juga mengundang peserta dari berbagai lembaga dan organisasi. Pemuda NU dan Muhammadiyah, DKM dan remaja masjid, juga sekolah dan pesantren di sekitar Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8.

Pada seminar ke-3 ini, dihadirkan tiga narasumber yang telah mengikuti program pertukaran santri antar pesantren se-Jawa. Mereka adalah Anisa Fauziyah dan Yusron Yasir dari Pesantren Annajah Rumpin Bogor, dan Julianda Dayanti dari Pesantren Madinatunnajah Jombang Ciputat.

Anisa dan Yusron menceritakan pengalaman mereka selama tinggal selama dua minggu, 16-29 Januari 2017, di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Candi Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

Menurut penuturan Anisa di depan peserta seminar, pesantren yang didirikan oleh KH. Mufid Mas’ud yang merupakan keturunan Sunan Pandanaran ke-14 ini, menerapkan budaya Jawa sebagai jalan tengah untuk menyatukan budaya yang ada. Kegiatan dialog antara anggota organisasi NU-Muhammadiyah, serta dengan pemeluk agama selain Islam juga sering diselenggarakan di pesantren ini.

Yusron, santri Pesantren An-Najah Bogor berdarah Jawa-Sunda-Batak, sangat semangat menceritakan kisahnya selama mengikuti program petukaran santri. Ia sangat bangga dan bersyukur dipilih sebagai peserta program. Menurutnya ini pengalaman yang sangat mahal, karena tidak semua santri di pondoknya mendapatkan pengalaman sepertinya. Selain rasa bangganya, ia menceritakan dengan detail peran Pesantren Sunan Pandanaran ketika menjadi mediator kasus Cebongan. Yakni kasus perseteruan antara anggota KOPASSUS TNI dengan preman di Jogjakarta yang menimbulkan konflik SARA.

Julinda, santri Pondok Pesantren Madinatunnajah, tidak mau kalah dengan cerita pengalaman dua pemateri sebelumnya. Ia menuturkan pengalamannya selama tinggal di Pesantren Annuqoyah Gulukguluk Madura. Menurut catatan Julinda, Pondok Pesantren Annuqoyah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menjadi mediator perang Sampit. Hal tersebut dapat dilakukan oleh Pesantren Annuqoyah lantaran pesantren ini telah terbiasa mendidik santri-santrinya dengan sikap saling menghargai dan menghindari sikap keegoisan yang menimbulkan perpecahan.

Sebagai narasumber pembanding, H. Robith Huda dari Pesantren Darunnajah 8 memberikan tambahan penjelasan tentang pengalaman pesantren dalam membangun perdamaian berdasarkan Hak Asasi Manusia dan Islam. Ustadz asal Madura ini menambahkan informasi tentang Pondok Pesantren Annuqoyah. Menurutnya, pesantren ini adalah salah satu yang terbesar dan tertua di Madura. Pengalaman pesantren ini dalam membina keharmonisan umat beragama sudah sangat tua, setua usia pesantren tersebut. Dengan candaan khas Madura, ustadz alumni pesantren Gontor tersebut mengubah suasana seminar seperti acara stand-up comedy.

Di akhir acara, para peserta dan pemateri beserta panitia penyelenggara seminar befoto bersama sebagai penutup kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.30 hingga pukul 11.45. Tidak terasa lebih dari tiga jam peserta duduk mendengarkan pemaparan seminar yang diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan dan dialog antar peserta dan narasumber. “Kapan ada seminar seperti ini lagi, Pak Ustadz?”, tanya seorang peserta kepada panitia setelah acara selesai. [aft]

  • 0 comment
  • Read 200 times
Login to post comments