Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan rangkaian workshop di 5 kota (Bandung, Surabaya, Jabodetabek, Salatiga, dan Yogyakarta). Workshop ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren dalam Promosi HAM dan Penyelesaian Konflik Secara Damai”.

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Surabaya diselenggarakan di Hotel Quds Royal Surabaya pada tanggal 15-16 Maret 2017 yang juga menghadirkan Ahsan Jamet Hamidi untuk sesi pengembangan jaringan dan strategi komunikasi dan dimoderatori oleh Hindun Tajri. Materi selanjutnya tentang Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren disampaikan oleh Muhamad Hanif, M. Hum., Pimpinan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Semarang dan dimoderatori oleh Muhammad Khudhori. Materi terakhir membahas tentang Manajemen berjejaring dan komunikasi: Pengalaman PfP disampaikan oleh Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay, M.Si., dan dimoderatori oleh M. Saiful Anam.

Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay menyampaikan “Dari kurang lebih 90 pesantren yang terlibat dalam kegiatan sebelumnya sangat antusias dan tertarik untuk mengikuti workshop ini, tetapi karena kita terbentur dengan kuota yang harus 30 orang,  maka strategi dari partner lokal kita adalah mengundang yang kemungkinan untuk ikut pertamanya, tapi setelah itu, mendengar pesantren yang lain bahwa ada kegiatan ini, jadi mereka ikut mendaftar tetapi ya waiting list, sehingga kemudian dari 30 peserta itu  yang waiting list itu ada sekitar 10-15 pesantren, nah itu dari bentuk antusiasme mereka dalam mendaftar, karena bagi mereka persoalan mendasar yang dihadapi khususnya pesantren di jawa timur itu mereka masih lemah dalam hal melakukan berjejaring, jadi workshop ini penting bagi mereka untuk mengembangkan skill-skill dalam membangun jaringan”, ungkapnya

Idris menambahkan, “Dari sisi antusiasme peserta itu nampak misalnya, jam 8 sebelum acara dimulai itu sudah ada 28 peserta yang datang dari 30 orang, ketika acara dimulai, seluruh peserta sudah berkumpul 100% dan waktunya ontime dimulai sesuai jadwal yaitu pukul 8.30 WIB. Walaupun ada peserta dari trenggalek sana yang menempuh perjalanan lebih dari 3 jam, bahkan dia sampai pertama kali di hotel pukul 06.00 WIB. Itu bentuk komitmen dan antusias dari pesantren yang terlibat yang patut untuk diapresiasi,” tambahnya.

Kemudian dari sisi peserta, Idris melihat dari dinamika diskusi yang berlangsung ini juga menimbulkan kesan tersendiri bagi para narasumber. Contoh-contoh yang dimunculkan oleh peserta sesuai dengan konteks workshop, misalnya tentang bagaimana cara membangun jejaring dalam membantu untuk menyelesaikan permasalahan aturan pemerintah terhadap akses pendidikan bagi pengungsi syiah, itu merupakan pertanyaan yang tepat untuk dibahas dalam diskusi. Ahsan Jamet, selaku narasumber workshop mengaku sangat tertarik sekali dengan dinamika diskusi yang berkembang itu karena contoh-contohnya sesuai dengan konteks yaitu menyelesaikan konflik secara damai dan itu muncul sendiri dari peserta.[LH]

  • 0 comment
  • Read 141 times
Login to post comments