Print this page

Pesantrenforpeace.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) didukung oleh Uni Eropa telah berhasil menyelenggarakan rangkaian workshop di 5 kota (Bandung, Surabaya, Jabodetabek, Salatiga, dan Yogyakarta). Workshop ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Manajerial dan Jaringan Pesantren dalam Promosi HAM dan Penyelesaian Konflik Secara Damai”.

Total peserta yang terlibat dalam workshop ini yaitu 150 peserta dengan rincian 30 peserta di setiap kota. Para peserta ini merupakan ustadz/ustadzah pengurus di pesantren masing-masing dengan kisaran usia 22-35 tahun.

Workshop untuk wilayah Bandung diselenggarakan di Tune Hotel, Dago, Bandung pada tanggal 8-9 Maret 2017 dengan menghadirkan 3 pembicara yang kompeten di bidangnya. Materi sesi pertama, membicarakan tentang pengembangan jaringan dan strategi komunikasi disampaikan oleh Ahsan Jamet Hamidi, Program Officer di The Asia Foundation dan dimoderatori oleh Wahidah Rosyadah. Materi selanjutnya tentang Studi kasus manajemen berjejaring dan komunikasi oleh pesantren disampaikan oleh Dr. KH. Tatang Astarudin, M.Si., Pimpinan Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU) Bandung dan dimoderatori oleh Evi Kurniawati. Materi terakhir membahas tentang Manajemen berjejaring dan komunikasi: Pengalaman PfP yang disampaikan langsung oleh Direktur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dimoderatori oleh Arum Ningsih.

Koordinator Program Pesantren for Peace, Idris Hemay mengungkapkan bahwa “Problem di workshop Bandung ini yaitu masih banyak berbicara mengenai konten karena peserta workshop ini berbeda dari peserta workshop-workshop dan training-training sebelumnya. Dan uniknya, di bandung ini memang tipologi dari pesantrennya itu bermacam-macam, ada muhammadiyah, ada NU , ada persis dan lain lain , mereka punya pendapat sendiri-sendiri, wajar saya kira itu. Namun,   panitia menyiasatinya dengan menyampaikan konten tersebut di awal sebelum diskusi kelompok, karena kalau konten tersebut tidak diselesaikan terlebih dahulu, saya rasa akan jadi bias, jadi harus dimantapkan dulu. Barulah setelah itu masuk  bagaimana untuk melakukan jejaring, hambatan dan tantangan yang dihadapi”, jelas Idris. [LH]

  • 0 comment
  • Read 158 times
Login to post comments