Selama 30 bulan, sejak Januari 2015 hingga Juni 2017 Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia dengan dukungan Uni Eropa telah menyelesaikan berbagai program Pesantren for Peace (PFP). PFP berhasil membentuk jaringan 1.500 Ustadz/Ustadzah, kyai muda dan santri dari 750 Pondok Pesantren se-Jawa yang terlibat dalam kegiatan kajian, pelatihan, penerbitan, diaolog dengan kelompok minoritas, promosi HAM di pesantren, serta pengembangan kapasitas melalui pemberian skema dana hibah.

Implementasi Program Pesantren for Peace (PFP) tersebut mendapatkan apresiasi dan dukungan dari Pemerintah Indonesia. Kementrian Agama melaui Dirjen Pendidikan Islam dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) mendukung gerakan penguatan peran pesantren dalam mempromosikan Hak Asasi Manusia (HAM), toleransi, demokrasi dan pembangunan perdamaian saat menerima kunjungan dan dialog dengan perwakilan 30 pimpinan pondok pesantren se-Jawa.

Dukungan kedua lembaga negara di atas sama dengan dukungan pemerintah daerah terhadap berbagai program PfP yang mereka hadiri. Disamping dukungan dari pemerintah di atas, PFP juga mendapatkan dukungan dari pesantren baik ustadz/ustadzah, kyai muda dan khususnya para santri yang terlibat dalam kegiatan 10 capacity training “Peningkatan Pemahaman Perdamaian di Pesantren dalam Perspektif HAM dan Islam” di 5 provinsi di Pulau Jawa. Menurut mereka, rata-rata lebih dari 90% memberikan penilaian bahwa training tercapai dengan baik. Training berhasil meningkatkan wawasan dan pengetahuan santri tentang perdamaian dalam Islam, meningkatkan wawasan dan pengetahuan santri tentang Islam dan Hak Asasi Manusia (HAM), dan santri memiliki keterampilan dalam menyelesaikan konflik secara damai dalam perspektif HAM dan Islam.

Dengan keberhasilan itu, melalui pesan-pesan yang disampaikan peserta training hampir semua merekomendasikan untuk melanjutkan training berdasarkan tema yang sama dengan target group pesantren yang berbeda dan belum pernah terlibat sebelumnya. Rekomendasi tersebut misalnya dari Ruslan dari PP. Azzakiyah Bogor “mudah-mudahan acara training seperti ini tidak hanya sampai di sini saja dan terus berlangsung agar menghasilkan duta-duta perdamaian untuk Indonesia dan dunia”.

Dhiya’atul Haq dari PP. Darul Ulum Surabaya “semoga masih banyak lagi orang-orang yang mendapatkan pencerahan melalui training ini untuk membuka pengetahun dan wawasan demi membangun perdamaian”. Nurizka Awalia dari PP. Daar el-Qolam Jakarta “program training tidak berakhir saat ini saja tapi bisa berlanjut di masa yang akan datang”. Zainal dari PP. Miftachus Sunnah Surabaya “alangkah baiknya program ini bisa dilanjutkan karena sangat dibutuhkan bagi orang-orang yang egois, fanatik dan merasa benar sendiri”.

Harapan dilanjutkannya training bisa dilihat dari banyaknya manfaat yang diterima para santri dalam mengikuti training misalnya Siti Rodiah Jakarta menjadi Trainer Communication Skill Lintas Iman di Halmahera Maluku Utara, Lina Fatinah Bandung menjadi Duta Perdamaian Mojang Jajaka Cianjur, Najmuddin Semarang menjadi Fasilitator Perdamaian, Rizqi Fadlillah Ramadhan dan M. Rodhia Miftah Mempromosikan Perdamaian dan HAM melalui Radio dan Majelis Ta’lim, Muhammad Pandu Agung Yogyakarta mempromosikan Perlindungan terhadap Hak-hak Kelompok Minoritas (Waria), Puput Noer Fitri Hasanah Yogyakarta ikut berpartisipasi dalam Membangun Yogyakarta Sebagai City of Tolerance dengan mengadakan seminar dan diskusi dan Ahmad Hamdani Jakarta mempromosikan perdamaian melalui tulisan opini atau artikel di Media cetak serta banyak manfaat dan dampak lainnya.

Penilaian peserta terhadap trainer, materi dan metode yang digunakan sangat beragam. Dari 6 materi besar training ada penilaian yang kurang baik dari peserta. Berdasarkan hasil penilaian peserta menunjukkan bahwa ada tiga materi yang dianggap kurang baik dan perlu kembangkan yaitu tentang materi mengenal HAM, memahami konflik dan Konflik secara Damai. Secara kuantitatif penilaian peserta terhadap Trainer Perdamaian dalam Islam di 5 provinsi sangat baik, semuanya di atas 90%. Berbeda dengan trainer materi mengenal HAM mayoritas penilaiannya baik tapi ada juga yang kurang baik misalnya di Surabaya hanya mendapatkan penilaian 63,3%. Penilaian ini memperlihatkan perlunya sesi pendalaman materi tentang HAM. Penilaian terhadap trainer materi HAM dalam Perspektif Islam sangat baik, semua trainer mendapatkan penilaian lebih dari 90%. Trainer prinsip HAM dan relasinya dengan Islam sangat baik lebih dari 90% tapi ada trainer khususnya di Jakarta yang mendapatkan penilaian kurang maksimal yaitu 80%. Trainer sesi materi memahami konflik di Jakarta dan Surabaya hanya mendapatkan penilaian 70%. Dan terakhir penilaian terhadap materi penanganan Konflik secara damai di Yogyakarta hanya 75,9%. Dua penilaian terakhir sama rendahnya dengan penilaian materi tentang sesi HAM sehingga penting 30 trainer dibekali kembali kemampuan dan keterampilannya tentang kedua materi tersebut.

Disamping itu, hasil pengamatan tim PfP di setiap training sering kali muncul pertanyaan-pertanyaan yang kritis yang ditanyakan peserta kepada trainer. Salah satu pertanyaan yang sering muncul misalnya tentang bagaimana mempromosikan perdamaian dan toleransi dengan melakukan counteri extremist narratives dan ujaran kebencian. Berdasarkan fenemona itu, para trainer perlu juga ditingkatkan pengetahuan, wawasan dan keterampilannya tentang konsep-konsep dasar dalam melakukan counter extremist narratives dan ujaran kebencian.

Berdasarkan latar belakang di atas Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) berkomitmen untuk melanjutkan program PFP dengan tema ”Pesantren for Peace: a Project Supporting the Role of Indonesian Islamic Schools to Promote Civil-Human Rights and to Counter Extremist Narratives”. Program ini terdiri dari kegiatan TOT 30 Ustadz/Ustadzah dan Capacity Training serta Fild Trip di wilayah yang berbeda dari training sebelumnya di 5 Provinsi se-Pulau Jawa. Untuk memaksimalkan output, konten dan tehnis pelaksanaan kegiatan-kegiatan di atas maka penting diadakan brainstorming untuk mendiskusikan secara konseptual, tehnis dan strategi yang tepat dalam penyelenggaraan TOT dan Capacity training yang akan datang.

  • 0 comment
  • Read 147 times
Login to post comments