Penelitian ini menganalisa konflik intraagama terkait penyerangan dan pelarangan terhadap jamaat Ahmadiyah di Jawa Barat. Secara spesifik, pemetaan dan analisis konflik di provinsi ini dilakukan dengan mengkaji studi kasus yang menimpa jamaat Ahmadiyah yang terjadi di daerah Tasikmalaya termasuk Kabupaten dan Kota, Kabupaten Kuningan dan Kota Bekasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami kondisi umum konflik komunal yang terjadi di Jawa Barat dan akar-akar penyebabnya, memahami situasi umum dan khusus tentang penghormatan, pemenuhan dan perlindungan Hak Asasi Manusia oleh negara dan masyarakat, serta memahami strategi dan pola pencegahan dan penanganan konflik oleh para pemangku kepentingan atau stakeholders. Tiga teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara mendalam (in-depth interview), Focus Group Discussion (FGD), dan studi pustaka atau telaah sumber.

Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki jumlah penduduk tertinggi di Indonesia. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, penduduk di Jawa Barat berjumlah 43.053.732 jiwa.[1] Jumlah penduduk di provinsi ini tercatat terus meningkat pasca sensus 2010. Tahun 2011, estimasi[2] jumlah penduduk sebesar 43.826.775 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk 1.180,79 jiwa per km2. Tahun 2013, estimasi penduduk Jawa Barat berjumlah 45.472.830 jiwa[3] dengan proyeksi laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,65 persen.[4] Jumlah pemeluk agama yaitu Islam 34.884.290 (96,51%), Kristen Protestan 449.261 (1,24%), Katholik 254.336 (0,70%), Budha 86.386 (0,24%), Hindu 35.094 (0,10%) dan lain-lain 1.21%.[5] Tingginya jumlah penduduk yang beragama Islam di Provinsi ini berbanding lurus dengan banyaknya jumlah pondok pesantren yang ada di Jawa Barat yaitu tercatat mencapai 4323 dengan berbagai tipenya yaitu salafiyah/tradisional, ashriyah/modern, dan kombinasi keduanya .[6]

Namun, mengacu pada data Sistem Nasional Pemantaun Kekerasan (SNPK) yang terkompilasi sejak Januari 2014 hingga April 2015, Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan jumlah insiden kekerasan dan konflik tertinggi di Indonesia yaitu 1588 dan 512 kasus berturutan.[7] Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) juga mencatat maraknya kasus intolerasi di Jawa Barat berdasarkan beberapa insiden kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap Jamaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Jamaat Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) dan umat minoritas lainnya.[8]

 

[1] Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, http://jabar.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/42

[2]http://simreg.bappenas.go.id/document/Profil/Profil%20Pembangunan%20Provinsi%203200JaBar%202013.pdf

[3] Ringkasan Eksekutif: Data dan Informasi Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Pusat Data & Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013

[4] Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat, Maret 2014

[5] Dikutip dari Kementerian Dalam Negeri RI berdasarkan data Jawa Barat dalam Angka tahun 2001, lihat di http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/provinsi/detail/32/jawa-barat

[6] Data dari Kementerian Agama (KEMENAG) wilayah Jawa Barat pertanggal 13 Desember 2011, diakses dari http://jabar.kemenag.go.id/file/file/.../nbuf1338515633.xls

[7] http://www.snpk-indonesia.com/, diakses 17 April 2015

[8] Siaran Pers ELSAM No: 054/PHK/ELSAM/IV/2013 tanggal 23 April 2013

 

 

Untuk Laporan Selengkapnya bisa didownload dilink berikut

Laporan Penelitian Jawa Barat

  • 0 comment
  • Read 712 times
Login to post comments