Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal sebagai kota yang memiliki keragaman. Semua jenis etnis, agama, dan paham mulai dari yang paling kiri hingga yang paling kanan ada di Yogyakarta. Salah satu keanekaragaman penduduk Yogyakarta terlihat di kalangan pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah. Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya dan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun untuk memilih hidup di Yogyakarta. Dengan penduduk hampir tiga setengah juta jiwa, Yogyakarta merupakan miniatur Indonesia yang masyarakatnya sangat beragam.

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Itulah pepatah yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana pendatang seharusnya beradaptasi. Pendatang di Yogyakarta dapat diterima oleh masyarakat setempat ketika mereka menghargai prinsip saling menghormati dan menjaga kerukunan. Ketika pendatang menghargai nilai-nilai lokal, maka mereka akan lebih mudah untuk berbaur dengan masyarakat Yogyakarta. Diantaranya adalah budaya sopan santun yang sangat kental dan menghormati yang tua serta ramah yang ada dimiliki penduduk Yogyakarta (disingkat Jogja).

Kepemimpinan memegang kunci penting menjaga Jogja tetap aman dan damai. Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono ke X yang mengutamakan kedamaian Jogja menjadi salah satu kunci Jogja tetap damai. Setiap orang harus menjaga perdamaian di Jogja dan dilarang keras melakukan kekerasan. Pada masa era reformasi 98 dimana kota Solo terbakar, Jogja masih berhasil menjaga kedamaian. Simbol Keraton Jogja masih kuat menjaga Jogja yang damai. Oleh karenanya Jogja sering dianggap sebagai barometer Indonesia, jika Jogja bisa diobrak abrik maka tak bisa dibayangkan kondisi Indonesia.

Bukan hal yang mudah untuk tetap konsisten menjaga perdamaian di Yogyakarta karena banyaknya perbedaan dalam berperilaku, pemikiran, corak dan kebudayaan yang ada. Perbedaan yang ada masih dapat dikendalikan dengan mencari persamaan tujuan. Menurut KH Abdul Muhaimin, ketua Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB), Jogja dapat menjaga perdamaian dengan baik diantaranya karena tiga hal. Pertama, peran keraton sangat kuat dan masih eksis sebagai center of culture atau pusat budaya. Kedua, masyarakat Jogja merupaka masyarakat terdidik yang lebih mudah memahami dengan baik dan tidak mudah terprovokasi dibanding daerah lain. Ketiga, komunikasi yang baik antar warga dan para pemangku kepentingan yang ada di Yogyakarta.

Dinamika pembangunan dan perkembangan sosial budaya juga turut mempengaruhi dinamika damai di Jogja. Pertumbuhan hotel yang sangat masif di Jogja misalnya sedikit banyak mempengaruhi relasi warga dengan warga maupun dengan pemerintah setempat. Upaya meningkatkan pendapatan daerah melalui pembangunan hotel ternyata dianggap tidak sejalan dengan harapan masyarakat. Masyarakat yang tinggal di sekitar pembangunan hotel mengalami kekurangan air. Contoh lain dari dinamika damai di Jogja adalah dinamika interaksi antar penduduk yang beragam kadang menimbulkan masalah. Persoalaan antara individu dapat menjadi persoalan kelompok dengan kelompok. Artinya, ada eskalasi konflik yang terjadi dari konflik personal menjadi konflik kelompok.

Damai yang aktif bukanlah tiadanya konflik. Damai yang aktif adalah kondisi masyarakat yang dapat hidup berdampingan secara damai, terjadi interaksi dan kerjasama, serta dapat menyelesaikan konflik jika terjadi. Jika sebelumnya Jogya sering disebut sebagai city of tolerance dengan segala perdamaian yang ada dengan penduduk yang sangat multi budaya, the Wahid Institute pada tahun 2014 menempatkan Yogyakarta sebagai propinsi intoleran kedua se-Indonesia setelah Jawa Barat. Tercatat terjadi 21 kasus intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama sepanjang tahun 2014 di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tulisan ini akan mendalami dialektika konflik dan inisiatif damai yang terjadi di Yogyakarta. Model penyelesaian konflik yang akan didalami adalah penyelesaian konflik yang menimpa Julius Felicianus, Direktur Galang Press, yang mengalami penyerangan dirumahnya oleh sekelompok orang tak dikenal. Sedangkan inisiatif damai akan mengulas upaya-upaya bina damai yang dilakukan oleh FPUB (Forum Persaudaraan Umat Beriman) di Yogyakarta.

 

 Untuk laporan versi lengkapnya, download link berikut:

Laporan Field Trip Yogyakarta

  • 0 comment
  • Read 870 times
Login to post comments