Adalah sunnatullah dan takdir Tuhan untuk menjadikan  manusia hadir di muka bumi ini dengan segala bentuk perbedaan sifat, kepentingan, keinginan, keyakinan, etnisitas, dan lain sebagainya. Menolak kemajemukan sama halnya mengingkari karunia dan rahmat Allah Swt. Namun mengapa keberagaman (pluralisme) itu menjadi cikal bakal manusia untuk terus berkubang dengan lumpur konflik yang tak kunjung berakhir. Perbedaan mengenai pemahaman atas sebuah ideologi (agama), seharusnya tidak lantas disikapi dengan melakukan tindak kekerasan, apalagi dengan mengatasnamakan agama.

Di Indonesia, kekerasan atas nama agama, perampasan atas hak kaum minoritas, diskriminasi terhadap hak kaum marginal, masih sangat rentan terjadi tiap tahunnya. Situasi penghormatan dan perlindungan atas jaminan kebebasan menjalankan ibadah, beragama, dan berkeyakinan belum sepenuhnya berjalan dengan baik.

Setidaknya menurut laporan KONTRAS, pada 2015, masih terdapat 96 kasus intoleransi kebebasan beragama, dimana terdapat 3 daerah yang paling banyak melakukan praktek ini yaitu Jawa Barat (18 kasus), menyusul DKI Jakarta dan Banten (masing-masing 11 kasus), serta Aceh (9 kasus). Jenis tindakan pelanggaran yang dilakukan berupa  intoleransi, penyesatan agama, penyebaran kebencian, perusakan rumah ibadah, dan penghentian kegiatan keagamaan lain. Realitas ini menunjukkan betapa kebebasan beragama masih menjadi batu kerikil implementasi HAM di negeri ini.

Salah satu kasus penting yang banyak disorot publik perihal intoleransi kebebasan beragama adalah kasus penyegelan Gereja Paroki St. Bernadette di Bintaro, Tangerang Selatan, yang terjadi pada Minggu 22 September 2013 lalu. Kala itu, Gereja didemo sekelompok massa yang mengatasnamakan ummat Islam dengan nama “Forum Komunikasi Ummat Islam (FKUI)” yang meminta kegiatan ibadah dan pembangunan gereja dihentikan. Mereka berdalih, kehadiran gereja sangat meresahkan warga karena ditakutkan tersebarnya doktrin-doktrin ajaran Kristen kepada masyarakat sekitarnya (kristenisasi), dan adanya kecurigaan akan dijadikannya gereja ini sebagai gereja terbesar di Asia tenggara. Walau tuduhan tanpa bukti tersebut sudah dijelaskan dan dibantah, namun massa ini tetap memaksakan kehendaknya untuk terus menyegel dan  menutup seluruh aktivitas kegiatan ibadah di gereja tersebut.

 

Untuk Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut

Laporan Field Trip DKI Jakarta 2016

  • 0 comment
  • Read 340 times
Login to post comments