Yogyakarta merupakan “rumah” bagi keberagaman, baik keragaman ras, suku, budaya, maupun agama. Yogyakarta memiliki 136 unit perguruan tinggi yang memiliki beberapa kategori diantaranya akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut,  dan universitas. Sehingga tidak mengherankan bila Yogyakarta dijuluki kota pendidikan. Hasilnya, Yogyakarta sangat diwarnai oleh dinamika pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan keragamannya Yogyakarta dapat dikatakan sebagai miniatur Indonesia. Selain itu, Yogyakarta juga merupakan salah satu tujuan wisata yang banyak digemari turis manca negara maupun domestik. Hal ini yang kemudian menjadikan Yogyakarta semakin plural penduduknya.

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan penduduk yang cukup padat. Berdasarkan Hasil Sensus penduduk oleh BPS pada tahun 2010, jumlah penduduk yang tinggal di wilayah DIY mencapai 3.457.491 jiwa, dengan komposisi 49,43% laki-laki dan 50,57% perempuan yang tersebar di lima kabupaten/kota. Padatnya penduduk ini merupakan konsekuensi Yogyakarta sebagai kota pendidikan, kota wisata yang sekaligus kota budaya di Indonesia. Dari demografi agama, berdasarkan data dari Kementrian Agama DIY pada tahun 2013, menunjukkan bahwa mayoritas penduduk DIY beragama Islam dengan persentase 92,204% atau sebanyak 3.355.990 orang. Hal ini juga ditunjukkan pada masing-masing kabupaten/kota di 5 kabupaten/kota di DIY. Komposisi ini diikuti oleh jumlah tempat ibadah dengan mayoritas tempat ibadah agama Islam yaitu dengan jumlah 12.834 bangunan yang terdiri dari masjid, musholla, dan langgar. Namun hal ini tidak berarti bahwa agama lain yang minoritas tidak mendapatkan haknya.

Keragaman kota berimplikasi pada perkembangan Yogyakarta sendiri, entah itu dari aspek sosial, politik, ekonomi, maupun keberagaman. Dari aspek ekonomi misalnya, untuk menunjang kebutuhan mahasiswa banyak berdiri apartement-apartement, real-estate, supermarket, mall, dan lain-lain yang dapat memenuhi apa yang diinginkan pendatang. Namun, di sisi lain, berdirinya bangunan-bangunan tersebut berdampak negatif pada masyarakat sekitar. Tak jarang masyarakat yang akhirnya menolak pendirian bangunan-bangunan tersebut karena dianggap mengganggu stabilitas sosial serta untuk tetap menjaga kearifan lokal yang selama ini sudah dibentuk masyarakat.

Meski diwarnai dengan keberagaman, Yogyakarta secara umum masih bertahan dengan stigma “adem ayem” artinya meskipun ada dan mungkin banyak konflik yang terjadi di balik “adem ayem”-nya sejauh ini Yogyakarta tetap berjiwa Jawa yang selalu menjunjung tinggi tradisi santun, tata karma, toleransi, dan budi pekerti dalam praktek kehidupan sehari-hari. Barangkali prinsip-prinsip tersebut yang menyatukan keberbedaan yang ada. Siapapun yang hidup di Yogyakarta harus menjunjung tinggi nilai-nilai tata karma dan sopan santun yang berlaku.

Yogyakarta memang sering didaulat sebagai the city of tolerance dengan perdamaian yang terwujud di antara penduduk yang multicultural. Hingga saat ini Yogyakarta belum memiliki sejarah konflik yang menghawatirkan, namun tak berarti Yogyakarta bebas dari kemungkinan terjadinya konflik sosial yang destruktif. Apalagi Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan dinamika sosial yang cukup signifikan. Peluang terjadinya konflikpun semakin besar Menurut Surwandono, konflik SARA merupakan konflik yang tertinggi di Yogyakarta dan kondisinya sangat memprihatinkan.

 

 

 

 

Untuk Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut :

  • 0 comment
  • Read 591 times
Login to post comments