Masyarakat Jawa Barat selama ini dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan sopan, senantiasa menjunjung tinggi tata-krama dalam kehidupan bermasyarakat, dan cenderung menghindari kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Karena itu, munculnya laporan-laporan yang menyatakan bahwa fenomena kekerasan atas nama agama di tanah Pasundan semakin meningkat dari tahun ke tahun, sungguh mengejutkan. Dalam laporan akhir tahun 2015 lalu, misalnya, Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan) menyebutkan bahwa Jawa Barat merupakan daerah dengan tingkat intoleransi agama paling tinggi dimana terjadi 18 kasus kekerasan agama. Bahkan sebelumnya, pada tahun 2014, tercatat 55 kali aksi pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Jawa barat. Angka ini jauh melampaui posisi kedua DI Yogyakarta dengan jumlah kekerasan 21 dan Ketiga Sumatera Utara yakni pada angka 18.

     Menurut komisioner Komnas HAM untuk bidang Kebebasan Beragama, Imdadun Rahmat, sejak tahun 2011, Jawa Barat berkali-kali masuk daftar teratas daerah dengan masyarakat yang tidak menghargai kebebasan beragama. Salah satu yang terbesar adalah pada 2013 ketika Setara Institute mencatat ada 80 kasus pelanggaran kebebasan beragama di Jawa Barat. Imdadun menyebut contoh kasus nyata pelanggaran kebebasan beragama di Jawa Barat adalah penyegelan  Gereja Yasmin di Bogor, pelarangan terhadap tujuh gereja di Bandung pada pertengahan Juni 2015, dan pelanggaran kebebasan ibadah bagi terhadap jemaat Ahmadiyah. Untuk kasus yang terakhir ini ia menyebut mulai dari perlakuan diskriminatif, larangan beribadah, larangan berkumpul, hingga larangan menyebarkan ajaran Ahmadiyah.

     Data-data tersebut memberi indikasi bahwa Jawa Barat termasuk kategori wilayah di Indonesia yang sensitif terhadap isu toleransi. Sekali lagi, data-data ini menjadi sebuah ironi yang memilukan terutama karena ia terjadi di tanah Pasundan, daerah yang mewarisi ajaran luhur “silih asah, silih asih, silih asuh, silih wawangi” dari Prabu Siliwangi. Munculnya kelompok-kelompok intoleran di Jawa Barat juga menjadi spekulasi tersendiri bahwa orang Sunda kini sudah berubah, dari pribadi-pribadi yang ramah menjadi pribadi pemarah, dari sosok yang lembut dan santun menjadi pribadi yang beringas.

     Fakta-fakta diskriminasi terhadap jemaat Ahmadiyah yang banyak terjadi di Jawa Barat bukan hanya mengindikasikan mulai lunturnya ajaran-ajaran luhur Sunda tentang silih asah-asih-asuh, namun juga memperlihatkan orientasi keagamaan yang mulai mengeras, dimana perbedaan pandangan atau ajaran cenderung disikapi secara sinis dan penuh kecurigaan. Dalam kondisi seperti ini, orang cenderung mudah menghakimi orang lain atau kelompok lain yang berbeda. Pelabelan sesat atau kafir mudah dilakukan dan menjadi pemicu bagi munculnya tindakan kekerasan seperti pengusiran, pelarangan, intimidasi, dan pemasungan hak-hak sipil warga penganut Ahmadiyah. Namun, jikapun benar Ahmadiyah adalah aliran sesat, lantas apakah jalan keluarnya adalah dengan melakukan pemaksaan agar mereka bertaubat? Dan yang lebih penting lagi, apakah kekerasan adalah jalan terbaik yang dituntunkan oleh agama dalam mengatasi hal tersebut? Dalam banyak kasus dan peristiwa, tidak ada bukti-bukti yang meyakinkan bahwa kekerasan dapat menyelesaikan masalah. Bahkan, ia akan menimbulkan masalah baru karena setiap kekerasan selalu menyisakan luka dan trauma yang tidak mudah dihapuskan dari memori kolektif korban. Dalam jangka panjang, ia seperti menyembunyikan api kebencian dalam sekam yang sewaktu-waktu dapat muncul kembali.

     Inilah yang patut kita renungkan dalam kaitannya dengan kasus kekerasan agama. Kita tidak boleh berhenti untuk belajar, merenung, dan mempertanyakan apakah sikap dan perilaku keagamaan kita selama ini sudah benar.

 

Untuk Laporan Versi lengkapnya, Silahkan download di link berikut :

  • 0 comment
  • Read 529 times
Login to post comments